Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,6 mengguncang wilayah Pacitan, Jawa Timur, pada Sabtu (27/6/2026) pukul 14.47.21 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan gempa ini berpusat di 86 kilometer tenggara Pacitan dengan kedalaman 10 kilometer. Episenter gempa berada pada koordinat 8,96 Lintang Selatan dan 111,16 Bujur Timur.
BMKG Pastikan Tidak Berpotensi Tsunami
Meski berkekuatan signifikan, BMKG memastikan gempa ini tidak berpotensi tsunami. "Tidak berpotensi tsunami," demikian pernyataan BMKG yang dikutip dari laman resmi www.bmkg.go.id. Namun, BMKG tetap mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap kemungkinan gempa susulan. "Hati-hati terhadap gempa bumi susulan yang mungkin terjadi," jelas BMKG dalam keterangannya.
Dampak dan Imbauan Keselamatan
Gempa bumi merupakan bencana alam yang dapat terjadi secara tiba-tiba dan berpotensi merusak. Indonesia, yang berada di kawasan rawan gempa, perlu selalu siap menghadapi fenomena ini. Menurut data WHO, secara global gempa bumi menyebabkan sekitar 750.000 kematian antara tahun 1998 hingga 2017, dan lebih dari 125 juta orang terkena dampaknya.
BMKG mengingatkan pentingnya tanggap bencana, termasuk mengetahui prosedur evakuasi dan mematuhi pedoman keselamatan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendefinisikan gempa bumi sebagai getaran atau guncangan di permukaan bumi akibat tumbukan lempeng bumi, patahan aktif, aktivitas gunung api, atau runtuhan batuan. Sementara itu, WHO menyebut gempa bumi sebagai guncangan hebat dan tiba-tiba yang disebabkan oleh pergerakan lempeng tektonik di sepanjang garis patahan.
Antisipasi Sebelum Terjadi Gempa
Untuk mengurangi risiko, masyarakat disarankan melakukan persiapan sebelum gempa terjadi. Pastikan struktur rumah aman dari bahaya seperti longsor atau likuifaksi. Evaluasi dan renovasi bangunan agar tahan gempa. Kenali lingkungan tempat tinggal atau bekerja, termasuk lokasi pintu darurat, tangga, dan tempat berlindung yang aman. Pelajari pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) dan cara menggunakan alat pemadam kebakaran. Catat nomor telepon penting yang dapat dihubungi saat darurat.
Atur perabotan agar menempel kuat pada dinding untuk mencegah jatuh atau bergeser. Simpan benda berat di bagian bawah dan pastikan benda gantung stabil. Jauhkan bahan mudah terbakar dari tempat yang mudah pecah. Biasakan mematikan air, gas, dan listrik jika tidak digunakan. Siapkan perlengkapan darurat seperti kotak P3K, senter, radio, makanan tambahan, dan air bersih.
Tindakan Saat dan Setelah Gempa
Saat gempa terjadi, jika berada di dalam bangunan, lindungi kepala dan badan di bawah meja atau tempat aman dari reruntuhan. Jika memungkinkan, segera keluar bangunan. Di luar ruangan, hindari gedung, tiang listrik, dan pohon. Waspadai rekahan tanah. Jika sedang mengemudi, keluar dari mobil dan menjauh untuk menghindari pergeseran atau kebakaran. Di pantai, segera menjauh untuk menghindari tsunami. Di pegunungan, hindari daerah rawan longsor.
Setelah gempa, keluar dari bangunan dengan tertib menggunakan tangga biasa, bukan lift. Periksa apakah ada yang terluka dan berikan P3K. Laporkan luka parah ke pihak berwenang. Periksa lingkungan sekitar terhadap kebakaran, kebocoran gas, atau korsleting listrik. Jangan memasuki bangunan yang rusak karena risiko reruntuhan. Hindari berjalan di area terdampak karena bahaya susulan. Dengarkan informasi resmi dari radio dan jangan mudah percaya pada isu yang tidak jelas sumbernya. Isi angket dari instansi terkait untuk menilai kerusakan. Tetap tenang dan berdoa.



