Pentagon memperkirakan bahwa perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran akan menelan biaya setidaknya 25 miliar dolar AS, atau setara dengan Rp 433,8 triliun. Perkiraan ini muncul di tengah sorotan publik dan politik yang semakin memanas. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menolak anggapan bahwa konflik ini akan menjadi perang yang sulit diselesaikan atau berlarut-larut.
Pernyataan Pete Hegseth
Melansir The Guardian pada Rabu (29/4/2026), Hegseth justru menyebut kritik dari anggota parlemen sebagai tantangan besar bagi upaya perang. Ia menilai narasi yang disebutnya "sembrono" dari dalam negeri lebih mengancam daripada ancaman langsung dari Iran sendiri.
Biaya Perang yang Fantastis
Angka 25 miliar dolar AS tersebut merupakan perkiraan minimal. Biaya ini mencakup operasi militer, logistik, dan dukungan bagi pasukan. Namun, beberapa analis memperkirakan biaya sebenarnya bisa jauh lebih tinggi jika konflik berlangsung lama.
Reaksi Publik dan Politik
Publik dan politisi AS terbelah dalam menanggapi perang ini. Sebagian mendukung tindakan tegas terhadap Iran, sementara yang lain khawatir akan dampak ekonomi dan korban jiwa. Kritik dari anggota parlemen semakin keras, terutama terkait transparansi biaya dan tujuan perang.
- Biaya minimal 25 miliar dolar AS.
- Hegseth menolak istilah quagmire.
- Kritik dalam negeri dianggap lebih berbahaya.
Dengan demikian, perang AS-Iran tidak hanya menjadi isu militer, tetapi juga politik dan ekonomi yang kompleks. Keputusan untuk melanjutkan atau mengakhiri konflik akan berdampak besar bagi stabilitas kawasan dan anggaran negara.



