Jakarta - Militer Amerika Serikat kembali melakukan serangan mematikan terhadap sebuah kapal di Pasifik Timur, yang mengakibatkan tewasnya tiga orang. Insiden ini merupakan serangan mematikan ketiga dalam sepekan terakhir, sehingga total korban tewas menjadi setidaknya 198 orang sejak operasi Southern Spear dimulai pada September tahun lalu.
Dilansir kantor berita AFP, Sabtu (30/5/2026), serangan tersebut dilakukan terhadap kapal yang diduga terlibat perdagangan narkoba. Komando Selatan AS dalam unggahan di media sosial X menyatakan bahwa kapal tersebut melintasi rute perdagangan narkoba yang dikenal di Pasifik Timur dan terlibat dalam operasi perdagangan narkoba.
Rekaman Video Serangan
Rekaman video serangan pada Jumat (29/5) waktu setempat menunjukkan sebuah kapal di laut lepas yang dilanda ledakan besar. Rekaman kemudian beralih ke gambar lebih dekat dari puing-puing yang terbakar dan tenggelam. Militer AS meluncurkan operasi Southern Spear pada awal September lalu, dengan Presiden Donald Trump bersikeras bahwa AS sedang berperang melawan kartel narkoba di Amerika Latin.
Kritik dari Ahli Hukum dan HAM
Pemerintahan Trump belum memberikan bukti pasti bahwa kapal-kapal yang diserang benar-benar terlibat perdagangan narkoba. Para ahli hukum dan kelompok hak asasi manusia menilai serangan tersebut dapat dianggap sebagai pembunuhan di luar hukum karena menargetkan warga sipil yang tidak menimbulkan ancaman langsung bagi AS.
Serangan ini menambah daftar panjang kontroversi seputar operasi militer AS di perairan internasional. Kritik terus berdatangan, menuntut transparansi dan akuntabilitas atas tindakan yang diambil.



