Trump Sesumbar Militer AS Terkuat di Dunia Usai Capai MoU dengan Iran
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menyuarakan keunggulan militernya setelah berhasil menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Iran yang mengakhiri konflik bersenjata selama tiga bulan terakhir. Dalam wawancara dengan media AS, Axios, yang dipublikasikan pada Kamis (18/6), Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat memiliki kekuatan militer yang tak tertandingi di dunia.
Trump menyangkal bahwa dirinya merasa terintimidasi oleh perang yang berkecamuk dengan Iran. Ia justru berargumen bahwa keberhasilan negosiasi MoU ini membuktikan superioritas militer AS. "Kita memiliki militer terkuat di dunia, jauh melampaui siapa pun. Siapa lagi yang bisa melakukan blokade seperti itu? Saya telah melakukan blokade angkatan laut di mana tidak satu pun kapal yang mampu melewatinya. Beberapa kapal mencoba, Mereka tidak berhasil, Anda tahu. Itu tidak berlangsung lama," ujar Trump.
Ketika ditanya mengenai batasan kekuasaannya sebagai Presiden AS setelah perang Iran, Trump menjawab tegas: "Tidak ada batasan. Saya belum memetik pelajaran tersebut. Saya tahu ada batasan, tetapi tidak ada batasan. Kita telah mengalahkan mereka sepenuhnya secara militer."
MoU Damai Iran-AS: Penyerahan Diri Tanpa Syarat?
MoU yang ditandatangani secara jarak jauh oleh Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Rabu (17/6) waktu setempat memuat sejumlah poin penting. Kesepakatan ini mengakhiri permusuhan secara permanen di semua front, termasuk Lebanon, dan memulai gencatan senjata selama 60 hari. Selain itu, blokade AS terhadap Iran dicabut, lalu lintas komersial di Selat Hormuz dipulihkan, dan rencana rekonstruksi senilai US$ 300 miliar dibahas. Sanksi AS juga akan dicabut, memungkinkan Teheran bergabung kembali dalam perekonomian global jika memenuhi komitmen yang ditentukan.
Saat didesak apakah MoU ini sama dengan "penyerahan diri tanpa syarat" yang awalnya ia inginkan dari Teheran, Trump mengakui: "Iya, itu mungkin memang penyerahan diri tanpa syarat."
Trump: MoU Cegah Depresi Ekonomi Global
Trump bersikeras bahwa MoU ini bukanlah cerminan kelemahan kekuasaannya, melainkan langkah strategis untuk menggerakkan pasokan minyak guna menghindari depresi global. "Satu-satunya cara saya bisa bersikap lebih keras adalah jika saya masuk ke sana selama dua atau tiga minggu lagi dan terus membombardir mereka habis-habisan. Benar? Tetapi apa yang akan kita dapatkan? Selat Hormuz tidak akan dibuka. Kita tidak akan memiliki minyak selama berbulan-bulan, Ini adalah jenis hal yang dapat menyebabkan depresi di seluruh dunia," jelasnya.
MoU ini menjadi sorotan internasional, dengan berbagai reaksi dari negara lain. Sebelumnya, Wakil Presiden AS juga geram terhadap kritik Israel terhadap MoU ini, menegaskan bahwa senjata Israel menggunakan uang pajak AS. Sementara itu, putra pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menyebut Trump putus asa dengan menyetujui kesepakatan ini.



