Kesepakatan Damai Trump dengan Iran Dikecam Senator Republik
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menuai kecaman tajam dari sejumlah senator Partai Republik setelah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Iran di Prancis pada Rabu, 17 Juni lalu. MoU tersebut bertujuan mengakhiri perang, membuka kembali Selat Hormuz, dan menstabilkan pasar energi global yang terpengaruh oleh kenaikan harga minyak dunia.
Namun, sejumlah anggota Partai Republik menyatakan kekecewaan mereka. Mereka menilai Trump terlalu cepat memberikan keringanan sanksi, akses ke pasar minyak, dan prospek dana rekonstruksi senilai US$300 miliar kepada Iran tanpa mendapatkan komitmen tegas mengenai pengayaan uranium, rudal balistik, atau penghentian dukungan terhadap kelompok proksi bersenjata.
Kritik Pedas dari Senator Terkemuka
Senator Bill Cassidy menyebut kesepakatan itu sebagai "kesalahan kebijakan luar negeri terburuk dalam beberapa dekade." Melalui akun media sosial X, ia menulis, "Sebelum perang, Selat Hormuz terbuka, Iran lumpuh oleh sanksi, dan 13 anggota militer kita masih hidup. Sekarang, 13 warga Amerika tewas, keluarga membayar miliaran dolar untuk bahan bakar, sanksi akan dicabut, dan bombardir berhenti."
Ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat, Roger Wicker, menyatakan MoU tersebut "sama sekali tidak sesuai" dengan tujuan Trump. Ia mengecam pencabutan sanksi dan pencairan dana sebagai imbalan atas kesediaan Iran bernegosiasi selama 60 hari lagi. "Dana US$300 miliar untuk rekonstruksi Iran, meskipun tidak dibiayai wajib pajak AS, akan membuat pembayaran berdasarkan kesepakatan Obama tahun 2015 tampak kecil," ujarnya.
Senator Texas, John Cornyn, mengungkapkan kekhawatiran bahwa kesepakatan itu hanya "jeda" yang memungkinkan Iran membangun kembali persenjataan dan melanjutkan pengayaan uranium.
Penentangan dari Partai Demokrat
Partai Demokrat juga kompak menolak kesepakatan tersebut. Pemimpin Partai Demokrat di Senat, Chuck Schumer, dalam pidatonya menyindir, "Semua yang membeli buku Trump 'The Art of the Deal' harus meminta pengembalian dana, karena apa yang dilakukan Trump di Iran adalah 'The Art of the Disaster'."
Trump membela MoU tersebut sebagai langkah praktis membuka kembali Selat Hormuz, yang mengalirkan sekitar seperlima minyak mentah dunia. Ia menekankan bahwa kesepakatan belum final dan AS dapat melanjutkan serangan jika negosiasi gagal.



