Kapal Induk Terbesar AS Bergerak Dekat Iran, Ketegangan Militer Meningkat
Jakarta - Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran semakin memanas dengan kedatangan kapal induk terbesar milik AS di kawasan Timur Tengah. Kapal induk USS Gerald R. Ford, yang merupakan kapal induk terbesar di dunia, telah memasuki Laut Mediterania pada Jumat (20/2/2026) waktu setempat.
Kapal tersebut diperintahkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk berangkat ke Timur Tengah sebagai bagian dari peningkatan kekuatan militer besar-besaran di tengah ketegangan dengan Iran. Kapal induk ini terlihat melintasi Selat Gibraltar dalam foto yang diambil dari sisi Gibraltar di selat tersebut.
Trump Pertimbangkan Serangan Terbatas
Trump mengatakan pada hari Jumat (20/2) waktu setempat bahwa ia "mempertimbangkan" serangan terbatas terhadap Iran jika negosiasi gagal menghasilkan kesepakatan. Sebelumnya, Trump telah mengisyaratkan pada hari Kamis (19/2) bahwa "hal-hal buruk" akan terjadi jika Teheran tidak mencapai kesepakatan dalam waktu 10 hari, yang kemudian diperpanjangnya menjadi 15 hari.
Ketika ditanya oleh seorang reporter pada hari Jumat (20/2) apakah ia sedang mempertimbangkan serangan militer terbatas, Trump menjawab: "Yang paling bisa saya katakan - saya sedang mempertimbangkannya."
Kapal induk USS Gerald R. Ford akan bergabung dengan kapal induk AS lainnya, USS Abraham Lincoln, dan kapal-kapal perang pengiringnya yang telah lebih dulu tiba di kawasan Timur Tengah.
Warga Teheran Sulit Tidur, Bayang-Bayang Perang Menghantui
Ketegangan Iran dan AS membuat warga yang tinggal di Teheran tidak bisa tidur nyenyak. Bayang-bayang perang menghantui tidur mereka. Warga Teheran, Hamid, mengaku sulit tidur karena kekhawatirannya terhadap konflik yang kembali berkobar menghantui ibu kota Iran setelah perang 12 hari dengan Israel tahun lalu.
"Saya tidak bisa tidur nyenyak di malam hari meskipun sudah minum obat," kata Hamid kepada AFP, Minggu (22/2/2026).
Teheran dikejutkan oleh ledakan pada malam hari di tanggal 12 hingga 13 Juni tahun lalu, tepatnya saat musuh bebuyutan Iran, Israel, melancarkan kampanye militer yang belum pernah terjadi sebelumnya. Akibatnya terjadi saling serang antara Iran dan Israel.
Serangan tersebut mendorong Iran untuk merespons dengan serangan drone dan rudal, yang mengakibatkan ribuan orang tewas di Iran dan puluhan di Israel.
Kekhawatiran Warga dan Persiapan Menghadapi Perang
Dalam suasana ini, Hamid khawatir tentang anak-anak dan cucu-cucunya. "Saya telah menjalani hidup saya, tetapi mereka belum melakukan hal baik apa pun dalam hidup mereka, mereka tidak bersenang-senang, tidak nyaman, tidak memiliki waktu luang, dan tidak memiliki kedamaian," katanya.
"Saya ingin mereka setidaknya merasakan hidup untuk sementara waktu. Tetapi saya takut mereka mungkin tidak mendapatkan kesempatan itu."
Warga lainnya juga berbagi kekhawatiran yang sama. Hanieh, seorang perajin keramik dari Teheran, menilai perang akan terjadi "dalam 10 hari". Wanita berusia 31 tahun itu telah menyimpan beberapa kebutuhan pokok di rumahnya untuk menghadapi kemungkinan serangan militer oleh Amerika Serikat setelah peningkatan kekuatan militernya di wilayah tersebut.
"Saya semakin takut karena saya dan ibu saya mengalami banyak kesulitan selama perang 12 hari terakhir," katanya kepada AFP. "Kami harus pergi ke kota lain," tambahnya.
Sementara warga lainnya, Mina Ahmadvand (46) juga percaya konflik lain akan segera terjadi. "Saya pikir pada tahap ini, perang antara Iran dan AS serta Israel tidak dapat dihindari dan saya telah mempersiapkan diri untuk kemungkinan itu," kata teknisi IT itu kepada AFP.
"Saya membeli selusin makanan kaleng termasuk ikan tuna dan kacang-kacangan serta beberapa bungkus biskuit, air minum kemasan, dan beberapa baterai tambahan, di antara barang-barang lainnya."
Swedia dan Serbia Minta Warganya Tinggalkan Iran
Pemerintah Swedia dan Serbia telah menyerukan warga negara mereka di Iran untuk segera meninggalkan negara itu. Seruan ini disampaikan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam tindakan militer atas program nuklir republik Islam tersebut.
Pemerintah Serbia telah meminta warga negara Serbia pada pertengahan Januari untuk meninggalkan Iran dan tidak melakukan perjalanan ke sana, seiring otoritas Iran melancarkan penindakan mematikan terhadap gerakan protes massal.
"Karena situasi keamanan yang memburuk, warga negara Republik Serbia tidak disarankan untuk melakukan perjalanan ke Iran dalam waktu dekat," kata Kementerian Luar Negeri Serbia dalam sebuah pernyataan terbaru di situs webnya yang diterbitkan pada Jumat malam hingga Sabtu pagi waktu setempat.
"Semua orang yang berada di Iran disarankan untuk meninggalkan negara itu sesegera mungkin," imbuhnya.
Secara terpisah, Menteri Luar Negeri Swedia Maria Malmer Stenergard dalam unggahan di media sosial X menyampaikan "seruan kerasnya kepada warga Swedia yang berada di Iran untuk segera meninggalkan negara itu".
Imbauan Kepada WNI di Iran dan Status Siaga 1
Pelaksana tugas (Plt) Perlindungan WNI (PWNI) Kemlu, Heni Hamidah, mengatakan Kemlu melalui KBRI Tehran memantau perkembangan kondisi keamanan Iran. Saat ini situasi di Tehran masih berjalan normal.
"Kementerian Luar Negeri melalui KBRI Tehran masih terus memantau perkembangan situasi keamanan di Iran, dan hingga saat ini, situasi di Tehran dan kota-kota lainnya terpantau berjalan normal serta kondusif," ujar Heni.
Dia mengatakan KBRI terus memantau keberadaan WNI dan menjalin komunikasi aktif. Hingga saat ini belum ada laporan WNI yang mendapat ancaman atau situasi membahayakan keselamatan.
"Terkait keberadaan WNI di Iran, KBRI senantiasa memantau dan menjalin komunikasi aktif. Hingga saat ini, tidak terdapat laporan WNI yang menghadapi ancaman langsung maupun situasi yang membahayakan keselamatan," ucapnya.
Saat ini, Pemerintah masih menetapkan status siaga 1 untuk Iran sejak Juni 2025. Semua plan contingency disiapsiagakan, termasuk berbagai opsi jalur evakuasi apabila dibutuhkan.
"KBRI Tehran mengimbau seluruh WNI di Iran untuk terus meningkatkan kewaspadaan, turut memantau perkembangan situasi terkini, serta menjaga komunikasi dengan KBRI Tehran," jelasnya.
Terpisah, Jubir Kemlu Vahd Nabyl mengatakan Kemlu mengamati perkembangan situasi di Iran. Berdasarkan informasi KBRI, tak ada laporan dari WNI menghadapi kondisi yang membahayakan keselamatan.
"Kami dapat sampaikan bahwa KBRI Tehran terus mengamati secara seksama perkembangan situasi di Iran. Berdasarkan informasi KBRI, sejauh ini tidak terdapat laporan WNI yang menghadapi kondisi membahayakan keselamatan," ujar Vahd.
Namun, Pemerintah saat ini masih memberlakukan status siaga 1 sejak Juni 2025. Kemlu juga telah mengimbau WNI di Iran untuk mempertimbangkan meninggalkan wilayah Iran jika kondisi tidak kondusif.
"Meski demikian status siaga 1 yang berlaku sejak Juni tahun lalu masih berlaku. KBRI juga telah beberapa kali sampaikan imbauan pada WNI di Iran untuk mempertimbangkan meninggalkan wilayah Iran secara mandiri," tuturnya.
"Sekiranya kondisi keamanan di wilayah mereka tidak kondusif. Semua contingency plan masih tetap disiagakan," tutupnya.
Kemlu mengimbau WNI apabila dalam situasi darurat dapat segera menghubungi Hotline KBRI Tehran melalui nomor +98 9914668845 / +98 902 466 8889 atau Hotline Direktorat Pelindungan WNI Kementerian Luar Negeri melalui nomor +62 812-9007-0027.