Iran Tegaskan Penutupan Selat Hormuz dengan Ancaman Keras
Seorang pejabat senior Garda Revolusi Iran pada hari Senin, 2 Maret 2026, menyatakan bahwa Selat Hormuz telah ditutup secara resmi. Lebih lanjut, Iran mengancam akan menembak dan membakar kapal apa pun yang berusaha melintasi selat strategis tersebut. Pernyataan ini dianggap sebagai peringatan paling tegas yang dikeluarkan oleh Iran sejak pengumuman awal penutupan jalur ekspor pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Pernyataan Resmi dari Pejabat Iran
Ebrahim Jabari, penasihat senior komandan Garda Revolusi Iran, mengonfirmasi kebijakan ini melalui media pemerintah Iran, IRIB. "Selat Hormuz ditutup. Jika ada yang mencoba melintas, para pahlawan Garda Revolusi dan angkatan laut reguler akan membakar kapal-kapal itu," ujar Jabari dengan tegas. Pernyataan ini menegaskan komitmen Iran untuk mempertahankan kedaulatan dan kontrol atas selat yang menjadi jalur vital bagi perdagangan minyak global.
Dampak Potensial pada Pasar Minyak Dunia
Kebijakan penutupan Selat Hormuz ini berpotensi menyebabkan gangguan signifikan dalam pasokan minyak internasional. Analis memperkirakan bahwa penutupan tersebut dapat menghentikan sekitar seperlima dari total aliran minyak global, yang pada gilirannya dapat mendorong harga minyak mentah melambung tinggi. Selain minyak, gangguan di Selat Hormuz juga mengancam kenaikan harga LNG global, dengan beberapa laporan menyebutkan potensi kenaikan hingga 130 persen.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia, dengan peran krusial dalam mengangkut minyak dari negara-negara produsen di Timur Tengah ke pasar internasional. Penutupan ini tidak hanya berdampak pada ekonomi global tetapi juga meningkatkan ketegangan geopolitik di kawasan tersebut. Iran telah menunjukkan kesiapan militer yang kuat melalui Garda Revolusi dan angkatan lautnya untuk menegakkan kebijakan ini.
Langkah Iran ini dipandang sebagai respons terhadap tekanan internasional dan sanksi ekonomi yang dihadapinya. Dengan menutup Selat Hormuz, Iran berusaha untuk menggunakan pengaruhnya dalam perdagangan energi sebagai alat diplomasi dan pertahanan. Namun, tindakan ini juga memicu kekhawatiran akan konflik yang lebih luas dan destabilisasi di wilayah yang sudah rentan.
