Iran Kecam AS di Forum PBB Soal Perlindungan Anak dalam Konflik
Jakarta - Ibu Negara Amerika Serikat, Melania Trump, memimpin pertemuan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) yang membahas isu anak-anak di wilayah konflik. Pertemuan ini digelar di tengah berkecamuknya perang antara AS dan Israel melawan Iran, yang telah menimbulkan korban jiwa termasuk di kalangan anak-anak.
Serangan ke Sekolah Picu Kecaman Iran
Dalam forum tersebut, Iran mengecam keras Amerika Serikat. Kecaman ini disampaikan oleh Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, tak lama sebelum sesi dimulai. Iravani menyebut sangat memalukan dan munafik bagi AS untuk mengadakan pertemuan tentang melindungi anak-anak selama perang, sementara mereka sendiri melancarkan serangan ke kota-kota Iran yang padat penduduk.
"Bagi Amerika Serikat, 'melindungi anak-anak' dan 'menjaga perdamaian dan keamanan internasional' jelas berarti sesuatu yang sangat berbeda dari apa yang tercantum dalam Piagam PBB," kata Iravani kepada wartawan.
Korban Anak dalam Serangan Udara
Media pemerintah Iran sebelumnya melaporkan bahwa serangan udara yang menghantam sekolah perempuan di Iran selatan pada hari Sabtu lalu menewaskan sedikitnya 165 orang dan melukai puluhan lainnya. Dari jumlah korban tewas tersebut, sekitar 200 di antaranya adalah anak-anak.
Melania Trump dalam pertemuan itu mendesak agar nasib anak-anak yang terjebak dalam konflik ditangani dengan serius. Namun, kecaman dari Iran menyoroti kontradiksi antara retorika AS dan tindakannya di lapangan.
Respons Militer AS dan Israel
Militer Israel menyatakan tidak mengetahui adanya serangan di daerah tersebut, sementara militer AS mengatakan sedang menyelidiki laporan serangan yang menewaskan banyak anak itu. Insiden ini memperuncing ketegangan di kawasan, dengan Iran bersikeras tidak akan menyerah meski menghadapi serangan.
Pertemuan DK PBB yang dipimpin Melania Trump ini menjadi sorotan internasional, mengingat konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran terus memanas. Isu perlindungan anak dalam konflik menjadi bahan perdebatan sengit, dengan Iran menuduh AS berlaku hipokrit.
Perkembangan ini menunjukkan bagaimana isu kemanusiaan seringkali terjerat dalam dinamika politik dan militer global, dengan anak-anak sebagai korban yang paling rentan.
