Iran Bertekad Kejar dan Bunuh Netanyahu, Konflik Timur Tengah Memanas
Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran terus berkecamuk di kawasan Timur Tengah, dengan ketegangan yang semakin memuncak. Iran secara terbuka menyatakan tekadnya untuk mengejar dan membunuh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, jika dia masih hidup. Pernyataan ini disampaikan oleh Garda Revolusi Iran atau IRGC melalui situs web resmi mereka, Sepah News, seperti dilaporkan oleh AFP pada Minggu (15/3).
Kecurigaan atas Keberadaan Netanyahu
Pernyataan Garda Revolusi Iran muncul di tengah spekulasi media sosial yang mempertanyakan keberadaan Netanyahu. Beberapa pengguna internet menyoroti kekhawatiran mengenai video Netanyahu yang dirilis pada 13 Maret, di mana tangannya tampak memiliki enam jari, menimbulkan kecurigaan bahwa rekaman tersebut mungkin diedit menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau AI. Hal ini menambah misteri dalam konflik yang sudah kompleks.
"Jika penjahat pembunuh anak ini masih hidup, kami akan terus mengejar dan membunuhnya dengan kekuatan penuh," tegas Garda Revolusi Iran dalam pernyataan resminya. Pernyataan keras ini mencerminkan intensitas permusuhan yang mendalam antara kedua negara.
Eskalasi Serangan dan Balasan
Konflik ini semakin memanas setelah Israel dan Amerika Serikat meluncurkan serangan ke Iran pada 28 Februari 2026. Serangan gabungan tersebut berakibat fatal dengan tewasnya Ayatollah Ali Khamenei, yang saat itu menjabat sebagai pemimpin tertinggi Iran. Iran tidak tinggal diam dan membalas dengan menyerang Israel serta pangkalan-pangkalan AS di negara-negara kawasan Teluk, bahkan sampai menutup Selat Hormuz, jalur perdagangan minyak yang vital.
Dalam situasi ini, Perdana Menteri Netanyahu sempat 'menghilang' dari publik saat Iran terus melakukan serangan balasan. Namun, dia kemudian muncul kembali untuk pertama kalinya sejak serangan Iran ke Tel Aviv, dengan ancaman balik yang tak kalah sengit.
Kemunculan dan Ancaman Netanyahu
Netanyahu tiba-tiba muncul melalui tautan video, berdiri di antara dua bendera Israel, dan menjawab pertanyaan dari media. Dalam penampilannya yang dilaporkan Reuters pada Jumat (13/3), dia langsung mengancam akan membunuh pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei. Netanyahu menyatakan bahwa Iran "tidak lagi sama" setelah hampir dua minggu pemboman, dan mengklaim bahwa Garda Revolusi serta pasukan paramiliter Basij telah menderita kerugian signifikan.
Dalam jumpa persnya, Netanyahu juga bersumpah akan terus menyerang Hizbullah Lebanon atas serangan yang dilakukan kelompok tersebut pada Senin (2/3) lalu. Namun, ketika ditanya tentang rencana spesifik Israel terhadap Iran dan Hizbullah, dia enggan memberikan detail lebih lanjut.
"Saya tidak akan mengeluarkan polis asuransi jiwa untuk pemimpin organisasi teroris mana pun... Saya tidak bermaksud memberikan laporan pasti di sini tentang apa yang kami rencanakan atau apa yang akan kami lakukan," kata Netanyahu dengan nada tegas.
Strategi dan Tujuan Konflik
Netanyahu lebih lanjut menjelaskan bahwa sirene peringatan serangan rudal dari Iran telah meraung di sebagian besar wilayah tengah Israel, menandakan tingkat ancaman yang tinggi. Dia menegaskan bahwa tujuan serangan Israel terhadap Iran adalah untuk menghilangkan ancaman eksistensial yang ditimbulkan oleh program nuklir dan rudal balistik Teheran. Selain itu, Israel berharap dapat menyebabkan keruntuhan pemerintahan Iran dengan mendorong rakyat Iran untuk bangkit melawan penguasa mereka.
Ketika ditanya apakah Israel mempersenjatai lawan-lawan penguasa Iran dan kemungkinan kegagalan dalam mencapai keruntuhan pemerintahan, Netanyahu mengakui bahwa bahkan jika pemerintah tidak jatuh, mereka akan tetap lemah. "Saya tidak akan merinci tindakan yang sedang kami ambil. Kami sedang menciptakan kondisi optimal untuk menggulingkan rezim, tetapi saya tidak akan menyangkal bahwa saya tidak dapat mengatakan dengan pasti bahwa rakyat Iran akan menggulingkan rezim tersebut - sebuah rezim digulingkan dari dalam," ujarnya. "Tapi kami pasti bisa membantu dan kami memang sedang membantu," tambahnya, menegaskan komitmen Israel dalam konflik ini.
Dengan pernyataan saling ancam antara Iran dan Israel, konflik Timur Tengah ini menunjukkan tanda-tanda eskalasi yang berbahaya, dengan potensi dampak luas bagi stabilitas regional dan global.
