Mengapa Ahmadinejad Jadi Misteri dalam Perang AS-Iran?
Ahmadinejad Misteri dalam Perang AS-Iran?

Mengapa Ahmadinejad Jadi Misteri dalam Perang AS-Iran?

Selama bertahun-tahun, Mahmoud Ahmadinejad dianggap sebagai salah satu tokoh anti-Israel paling mudah dikenali di dunia. Pernyataan kerasnya, seperti menyebut Israel sebagai "rezim yang dibenci" yang akan "dihapus dari peta geografis", serta penyangkalan Holocaust dan pembelaan program nuklir Iran, membuatnya menjadi figur kontroversial di mata internasional.

Namun, Ahmadinejad kembali menjadi sorotan setelah The New York Times melaporkan bahwa Amerika Serikat dan Israel memiliki "perencanaan pascaperang" yang melibatkan pria tersebut. Dalam rencana itu, mereka mempertimbangkan opsi Ahmadinejad memisahkan diri dari struktur keamanan Iran dan muncul sebagai calon pemimpin Iran di masa depan. Rencana itu disebut gagal karena serangan untuk membebaskannya dari tahanan rumah pada awal perang justru melukainya.

Sejumlah pejabat dan analis Israel secara terbuka mengatakan bahwa Ahmadinejad, dengan retorika kerasnya dan penyangkalan terhadap Holocaust, justru menjadi berguna bagi Israel. Efraim Halevy, mantan kepala Mossad, bahkan menyebutnya sebagai "hadiah terbesar Iran bagi Israel" karena pernyataannya memudahkan dunia untuk menganggap ancaman Iran secara serius.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Namun, laporan tersebut disambut skeptisisme oleh banyak analis AS dan Israel. Mereka mempertanyakan mengapa kedua negara itu mempertimbangkan bekerja sama dengan seseorang yang lama dikenal dengan retorika anti-Israel. Kontradiksi ini mendorong sebagian pihak untuk meninjau ulang citra Ahmadinejad.

Perubahan Citra Ahmadinejad

Setelah merampungkan masa jabatan pada 2013, Ahmadinejad semakin sering berselisih dengan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dan unsur-unsur dalam struktur keamanan Iran, termasuk Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Dia kemudian beberapa kali dilarang oleh Dewan Garda Iran untuk mencalonkan diri dalam pemilihan presiden.

Dalam beberapa tahun terakhir, di media sosial, Ahmadinejad membentuk ulang citra internasionalnya. Dia merilis cuitan dalam bahasa Inggris, memberi selamat kepada tim football Universitas Michigan, dan mengutip rapper legendaris AS, Tupac Shakur. Bahkan, dia memuji Presiden AS Donald Trump yang disebutnya "memerangi korupsi politik di Amerika".

Namun, Raz Zimmt, kepala program Iran dan Poros Syiah di Institute for National Security Studies Israel, menilai bahwa meskipun Ahmadinejad berupaya menciptakan citra yang lebih moderat, dia tidak pernah memiliki tingkat dukungan yang bisa merebut kekuasaan di negara berpenduduk lebih dari 90 juta orang.

Skeptisisme dari Pakar AS

Max Abrahms, profesor ilmu politik di Northeastern University, mengatakan laporan tersebut harus diperlakukan dengan skeptisisme tinggi karena tingginya misinformasi terkait perang. Ilan Berman dari American Foreign Policy Council juga menepis dugaan rencana AS-Israel untuk menempatkan Ahmadinejad kembali ke tampuk kekuasaan, sementara Michael Rubin dari American Enterprise Institute menyebut laporan itu "fantastis" dan terlalu bergantung pada sumber anonim.

Di sisi lain, The New York Times menyatakan bahwa mereka "sepenuhnya yakin" dengan laporannya, yang didasarkan pada percakapan dengan pejabat Amerika, Israel, dan Iran serta sumber lain yang memiliki informasi.

Reaksi dari Israel

Danny Citrinowicz dari Institute for National Security Studies menulis bahwa setiap upaya untuk "menobatkan" Ahmadinejad mencerminkan kesalahpahaman mendalam terhadap sistem politik Iran. Dia mengatakan Ahmadinejad tidak memiliki basis kekuatan nyata dan tidak akan pernah didukung IRGC, sehingga ia hanya bisa berkuasa jika seluruh sistem kekuasaan yang ada saat ini di Iran runtuh.

Yossi Melman, analis keamanan Israel senior, menyebut cerita ini "gila dalam banyak hal" dan menunjukkan bahwa para perencana di Israel dan AS "hidup dalam dunia fantasi".

Mengapa Nama Ahmadinejad Muncul?

Jawabannya mungkin terletak pada kombinasi tiga hal yang dimiliki Ahmadinejad: ketenaran, pengalaman di sistem politik Iran, dan jarak dengan pemimpin tertinggi. Ahmadinejad dikenal luas di Iran, punya pengalaman memimpin pemerintahan, memahami bahasa sebagian kelas bawah, dan memahami mekanisme kekuasaan di Iran. Perselisihannya dengan Khamenei membuatnya tidak dipandang sebagai bagian orang dalam rezim, sehingga mungkin dipandang sebagai figur yang dapat dimanfaatkan dalam periode kekacauan.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Sejumlah kritikus berpendapat bahwa perilaku Ahmadinejad selama bertahun-tahun, mulai dari masa kepresidenan yang kontroversial hingga sikap diamnya selama perang baru-baru ini, memunculkan pertanyaan baru tentang posisi politiknya. Laporan The New York Times kini menghidupkan kembali perdebatan tentang bagaimana Ahmadinejad seharusnya dipahami.