Dua puluh delapan tahun lalu, tepatnya pada 21 Mei 1998, Presiden Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya setelah 32 tahun memimpin Indonesia. Di balik pidato bersejarah itu, tersimpan drama psikologis dan perdebatan hukum yang menegangkan antara Soeharto dan penulis pidatonya, Yusril Ihza Mahendra. Bahkan, terjadi aksi rebutan pulpen di saat-saat terakhir.
Malam Penuh Ketegangan di Cendana
Pada malam 20 Mei 1998, suasana di kediaman Soeharto di Jalan Cendana, Menteng, Jakarta Pusat, sangat mencekam. Gelombang demonstrasi mahasiswa telah mengepung ibu kota, dan tekanan politik semakin tak terkendali. Dalam kesendiriannya, Soeharto memutuskan untuk mundur. "Ya sudah, kalau begitu saya mundur saja besok. Kamu urus bagaimana cara saya berhenti," ucapnya kepada Yusril, seperti dikenang kembali oleh sang penulis pidato.
Yusril bersama sejumlah orang lingkaran dalam langsung menggelar rapat kilat semalam suntuk untuk menyusun draf pidato. Sejak awal, Soeharto menolak keras penggunaan frasa "mengundurkan diri". Ia lebih memilih kata "berhenti" dengan alasan taktis dan hukum. Menurut Soeharto, jika ia menggunakan kata "mundur" dan mengajukannya kepada MPR, lalu lembaga itu menolaknya dalam sidang, maka kondisi Indonesia akan berada di ujung tanduk. "Kondisi selanjutnya tak terprediksi," kenang Yusril.
Ketegangan Menuju Istana
Pagi hari 21 Mei 1998, saat rombongan bersiap menuju Istana Negara, Soeharto membaca kembali teks pidato dan meminta Yusril menambahkan satu kalimat: "Kabinet dinyatakan demisioner." Frasa hukum ini berarti para menteri kehilangan kekuasaannya, namun tetap bekerja secara administratif sampai presiden baru membentuk kabinet. Yusril, sebagai pakar hukum, ragu karena kalimat itu dianggap berbahaya bagi posisi Wakil Presiden B.J. Habibie. Menurut Yusril, Habibie seharusnya bisa langsung melanjutkan kepemimpinan kabinet tanpa perlu dibubarkan sepihak.
Yusril memilih tidak bergerak dan mengabaikan perintah Soeharto. Melihat hal itu, ego sang penguasa terusik. "Kalau tak mau tulis 'demisioner', sini saya sendiri yang tulis," sergah Soeharto dingin. Seketika, ia merebut pulpen dari tangan Yusril dan menambahkan sendiri kalimat pembubaran kabinet itu di atas kertas. Langkah tegas itu diambil sebelum Soeharto melangkah menuju Istana untuk membacakan pidato di hadapan kilatan kamera yang mengubah jalannya sejarah bangsa.
Warisan Sejarah Reformasi
Peristiwa 21 Mei 1998 menjadi tonggak runtuhnya Orde Baru dan awal era Reformasi di Indonesia. Drama di balik pidato tersebut menunjukkan betapa rumitnya proses transisi kekuasaan, termasuk pertarungan kata-kata dan keputusan hukum yang diambil dalam tekanan. Kisah rebutan pulpen antara Soeharto dan Yusril menjadi salah satu cerita menarik yang mewarnai sejarah politik Indonesia.



