Pramono Anung Sentil Ego Pejabat BUMD: Komunikasi Mandek, Sinergi Terhambat
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung secara tegas menyoroti masih besarnya ego di kalangan pejabat badan usaha milik daerah (BUMD). Ia menilai hal ini menjadi penyebab utama mandeknya komunikasi dan kolaborasi yang seharusnya memberikan manfaat besar bagi ibu kota.
Forum BUMD Leaders 2026: Sorotan Masalah Ego Sektoral
Dalam BUMD Leaders Forum 2026 yang diselenggarakan di Ancol, Jakarta Utara, pada Jumat (17/4/2026), Pramono menyampaikan kritik pedasnya. "Problem kita yang paling utama adalah sering kali ego di antara para pejabat, termasuk pejabat BUMD-nya, kegedean. Komunikasinya tidak berjalan dengan baik," ujarnya. Ia menegaskan bahwa persoalan ego ini kerap menghambat upaya sinergi antar-instansi, padahal potensi manfaatnya sangat signifikan bagi perusahaan dan masyarakat Jakarta.
Contoh Nyata: Sinergi Ancol dan JIS yang Belum Optimal
Pramono memberikan contoh konkret mengenai belum optimalnya sinergi antara kawasan Ancol dan Jakarta International Stadium (JIS). Meskipun kedua aset tersebut sama-sama berada di bawah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, selama bertahun-tahun mereka tidak terhubung secara maksimal akibat lemahnya komunikasi. "Padahal Ancol itu mayoritas dimiliki Pemprov DKI, sebelahnya ada JIS juga milik Pemprov. Sudah lama tidak pernah disinergikan," jelasnya. Ia menekankan bahwa jika disinergikan, manfaatnya bisa dirasakan secara luas, mulai dari efisiensi operasional hingga peningkatan pelayanan publik.
Upaya Integrasi: Pembangunan Jembatan Penghubung
Kini, Pemprov DKI mulai mengambil langkah nyata dengan mengintegrasikan kedua kawasan tersebut. Salah satu inisiatif utama adalah pembangunan jembatan penghubung sepanjang sekitar 350 meter. Pramono mengklaim bahwa langkah ini mampu menjawab berbagai persoalan klasik, seperti kemacetan parah yang sering terjadi saat acara berlangsung di JIS. Ia bahkan berbagi pengalaman pribadi: "Waktu itu saya datang dengan Presiden (Joko Widodo), mau nonton konser. Mobil Presiden sampai lebih dari dua jam tidak bisa keluar," ungkapnya, menggambarkan betapa seriusnya dampak dari kurangnya koordinasi ini.
Seruan untuk Komunikasi Terbuka dan Kolaborasi
Ke depan, Pramono meminta seluruh jajaran BUMD untuk menurunkan ego sektoral dan mengedepankan komunikasi yang terbuka dan transparan. Ia menekankan pentingnya membangun budaya kerja kolaboratif agar berbagai persoalan dapat diselesaikan lebih cepat dan efisien. "Kalau komunikasinya berjalan baik, terbuka, transparan, persoalan bisa dengan mudah dikonsultasikan dan diputuskan," tuturnya. Hal ini diharapkan dapat mendorong terciptanya sinergi yang lebih baik antar-BUMD, sehingga mampu memberikan kontribusi maksimal bagi pembangunan Jakarta.
Dengan adanya pernyataan ini, Pramono Anung mengirimkan pesan kuat tentang perlunya reformasi dalam tata kelola BUMD, dengan fokus pada peningkatan komunikasi dan kerja sama untuk mengatasi tantangan perkotaan yang kompleks.



