Prabowo Kumpulkan Guru Besar dan Peneliti ke Satgas Baru, Ini Tujuannya
Prabowo Kumpulkan Guru Besar dan Peneliti ke Satgas Baru

Presiden RI Prabowo Subianto menginstruksikan Menteri Pendidikan, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto untuk membentuk Satuan Tugas (Satgas) percepatan target kebijakan strategis pemerintah. Satgas ini akan diisi oleh jajaran guru besar, akademisi, dan peneliti dari perguruan tinggi serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Pembentukan Satgas dan Tujuannya

Brian Yuliarto menyatakan bahwa Satgas tersebut merupakan kelompok kerja yang terdiri dari insan perguruan tinggi, guru besar, dosen, dan peneliti untuk mengkaji berbagai kebijakan bersama kementerian teknis terkait. Hal ini disampaikan Brian usai penutupan Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri di Jakarta, Minggu (28/6).

“Presiden meminta kami membentuk semacam satgas atau kelompok kerja yang nantinya intinya adalah berisi insan-insan, guru besar-guru besar, dosen, peneliti dari perguruan tinggi maupun BRIN untuk bisa mengkaji lebih lanjut bersama Kementerian Teknis terkait,” ujar Brian.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Selama rangkaian konvensi, sejumlah menteri turut hadir dan mengisi diskusi. Brian menambahkan, “Tadi Bapak Presiden berharap sumbangsih dari insan perguruan tinggi itu dapat mempercepat target-target kebijakan strategis yang ada di setiap kementerian-kementerian.”

Diskusi Intens dan Harapan Percepatan Pembangunan

Brian mengungkapkan bahwa dalam rangkaian acara tersebut terjadi diskusi yang cukup intens antara peserta dengan para menteri terkait. Diskusi ini diharapkan dapat menjadi masukan dan mempercepat pembangunan di Indonesia.

Prabowo menekankan pentingnya sektor sains, teknologi, riset, dan inovasi sebagai dasar bagi kemajuan bangsa. Ia menganalogikan Indonesia sebagai kapal besar yang seluruh komponennya harus bersatu dan bahu-membahu.

“Pandangan yang berbeda itu hal yang biasa. Presiden menyampaikan bahwa perguruan tinggi adalah tempat academic freedom. Gagasan-gagasan silahkan dikaji bersama-sama, didiskusikan bersama-sama di perguruan tinggi. Harapannya adalah kajian-kajian tersebut intinya dalam rangka untuk mencari solusi dan mempercepat kemajuan dan kemandirian bangsa Indonesia,” ungkap Brian.

Peta Jalan Riset hingga 2045

Kepala BRIN Arif Satria menyatakan bahwa BRIN bersama Kemendiktisaintek tengah menyusun peta jalan riset yang akan menjadi acuan riset di Indonesia hingga 2045. Peta jalan ini akan memberikan pandangan teknologi yang akan dikembangkan ke depan, sekaligus menjadi panduan arah industrialisasi.

“Karena arah riset ini sekaligus bisa memberikan pandangan teknologi apa ke depan yang akan dikembangkan, sehingga itu sekaligus menjadi panduan arah industrialisasi kita ke depan, sehingga industrialisasi kita ke depan tidak didasarkan pada sekadar common sense tapi didasarkan pada data, proyeksi penelitian apa yang berkembang sehingga industri kita juga akan survive, relevan,” kata Arif.

Grand Design Riset Nasional

Mensesneg Prasetyo Hadi menegaskan bahwa peta jalan riset di Indonesia harus berada dalam satu grand design. Riset harus membawa dampak positif bagi masyarakat luas dan mampu menyelesaikan persoalan di tengah masyarakat.

“Misalnya contoh riset tentang sampah, waste to energy, kemudian peralihan kalau dari LPG nanti menuju ke CNG, riset-riset yang langsung berdampak pada menyelesaikan masalah-masalah yang kita hadapi,” ujar Prasetyo.

Prasetyo juga menyebut bahwa Prabowo menaruh perhatian besar terhadap perguruan tinggi. Prabowo beranggapan bahwa kampus merupakan tempat bagi orang-orang terpintar yang dimiliki bangsa Indonesia.

“Nah dari situlah tentu beliau berpandangan bahwa dalam rangka menyelesaikan seluruh masalah bangsa kita yang sekarang kita hadapi, ya beliau ingin mengajak seluruh civitas academica untuk mari bersama-sama,” ucapnya.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga