Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Setyo Budiyanto menegaskan bahwa para makelar kasus atau markus dan broker tidak memiliki kesaktian. Mereka hanya bisa beroperasi jika mendapatkan bocoran dari orang dalam. Pernyataan ini disampaikan dalam acara Peluncuran Nasional E-Learning Aparatur Sipil Negara (ASN) Berintegritas pada Rabu, 17 Juni 2026.
Digitalisasi Bisa Diakali Tanpa Integritas
Setyo mengingatkan bahwa jika ASN bekerja tanpa integritas, sistem digitalisasi yang sudah diterapkan tetap bisa dimanipulasi. “Kalau kita melakukan semua kegiatan tanpa integritas, maka yang sudah dikerjasamakan dengan cara digitalisasi itu hanya sebuah alat. Alat bisa diakali,” ujarnya.
KPK menemukan sejumlah praktik manipulasi yang masih terjadi meskipun proses pengadaan sudah dilakukan secara digital. “Kami sudah buktikan banyak di perkara-perkara itu, kelihatannya saja sudah digitalisasi tapi pintu belakangnya, backdoor-nya itu ternyata masih bisa dimainkan,” jelas Setyo.
Contoh Manipulasi di E-Katalog
Ia mencontohkan pengadaan barang melalui e-katalog. Menurutnya, sistem itu tetap bisa diakali tergantung pada sumber daya manusianya. “Pengadaan secara digitalisasi masih bisa dimainkan, masih bisa dikotak-katik. Ditutup siang hari, dibuka malam hari, karena kembali kepada sumber daya manusianya,” kata dia.
Peran Orang Dalam bagi Markus dan Broker
Setyo kemudian menyoroti keberadaan makelar kasus, calo, atau broker. Mereka biasanya bergerak setelah memperoleh informasi dari orang dalam. “Sering saya sampaikan, mereka selalu beralasan ‘Pak ada Markus, ada calo, ada broker’. Mereka ini tidak sakti-sakti amat. Mereka sebenarnya adalah penonton, pemain yang menunggu kucuran informasi dari orang dalam,” ujarnya.
Dalam praktiknya, setelah mendapat informasi, para markus, calo, dan broker ini bekerja dalam proses pengadaan. “Jadi kalau orang dalam sudah ngasih tahu ‘Woi nanti buka buat pengadaan speknya ini ini ini’. Dia rapikanlah. Nanti harga penawarannya sekian-sekian. Dia buatlah itu. Nah nanti tinggal merekalah broker, Markus, makelar itu yang kemudian calo itulah yang gerilya, carilah pemain-pemain, carilah vendor, motong harga sehingga otomatis kualitasnya jadi tidak bagus,” pungkas Setyo.



