Hoaks Pelemahan Rupiah Sengaja Dilakukan BI, Ini Faktanya
Hoaks Pelemahan Rupiah Sengaja Dilakukan BI

Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat terus melemah dan mencapai rekor terlemah sepanjang sejarah, yaitu Rp 18.000 per dollar AS pada 4 Juni 2026. Di tengah situasi tersebut, beredar narasi di media sosial yang menyatakan bahwa pelemahan rupiah sengaja dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) untuk mendorong ekspor dan menarik investor asing. Narasi ini mulai beredar sejak akhir Mei 2026, sebelum rupiah mencatatkan nilai terendahnya. Namun, klaim tersebut adalah hoaks dan perlu diluruskan.

Fakta di Balik Narasi Pelemahan Rupiah

Menurut Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Fadjar Majardi, tuduhan bahwa BI sengaja melemahkan rupiah adalah tidak benar. "BI tidak pernah memiliki kebijakan untuk melemahkan rupiah secara sengaja. Pelemahan rupiah saat ini lebih disebabkan oleh faktor eksternal, seperti penguatan dollar AS dan ketidakpastian ekonomi global," ujar Fadjar dalam keterangan resmi, 5 Juni 2026.

Data menunjukkan bahwa sejak awal 2026, rupiah telah terdepresiasi sekitar 12% terhadap dollar AS. Hal ini sejalan dengan pelemahan mata uang negara berkembang lainnya akibat kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve dan eskalasi konflik perdagangan global.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Dampak Pelemahan Rupiah terhadap Ekonomi

Pelemahan rupiah berdampak pada berbagai sektor, terutama pada impor bahan baku dan inflasi. Ekonom dari Universitas Indonesia, Dr. Ahmad Syarif, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah justru dapat membebani perekonomian. "Jika rupiah melemah, biaya impor naik, yang kemudian mendorong inflasi. Hal ini tidak serta-merta menguntungkan ekspor karena banyak industri dalam negeri masih bergantung pada bahan baku impor," kata Ahmad.

Selain itu, pelemahan rupiah juga meningkatkan beban utang luar negeri swasta dan pemerintah yang denominasinya dalam dollar AS. Bank Indonesia telah melakukan intervensi di pasar valas untuk menstabilkan rupiah, termasuk menjual surat berharga dan melakukan operasi moneter.

Klarifikasi Bank Indonesia

Bank Indonesia menegaskan bahwa kebijakan moneter tetap diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Fadjar menambahkan, "Tidak ada niat untuk melemahkan rupiah. Justru BI terus berupaya menstabilkan rupiah melalui berbagai instrumen kebijakan."

Masyarakat diimbau untuk tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi. Selalu cek fakta melalui sumber resmi, seperti situs Bank Indonesia atau Kementerian Keuangan.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga