Presiden Iran Desak Pencairan Aset Rp107 Triliun di Qatar
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa aset Teheran senilai US$6 miliar (setara Rp107,4 triliun) yang dibekukan di Qatar harus segera dicairkan berdasarkan kesepakatan dengan Amerika Serikat. Pernyataan ini disampaikan Pezeshkian di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara setelah serangan rudal Iran ke Bahrain dan Kuwait serta serangan balasan AS di selatan Iran.
Pezeshkian, seperti dilansir Al Arabiya dan Middle East Monitor pada Selasa (30/6/2026), menjadi pejabat tertinggi Iran yang menyinggung soal pencairan aset yang disimpan oleh Qatar, mediator utama dalam negosiasi antara Teheran dan Washington. Sejauh ini, para pejabat AS mengatakan belum ada aset Iran yang dicairkan.
Kesepakatan MoU dan Pencairan Bertahap
"Berdasarkan rencana yang telah ditetapkan, aset Iran sebesar US$6 miliar, dari total US$12 miliar, yang ada di Qatar seharusnya dicairkan dan dikembalikan ke negara ini," kata Pezeshkian dalam pernyataannya yang dikutip kantor berita IRNA. Ia menambahkan bahwa "langkah-langkah tindak lanjut yang diperlukan sedang dilakukan" untuk pengembalian sisa dana tersebut.
Pezeshkian juga menyebut nota kesepahaman (MoU) yang telah diteken oleh Iran dan AS sebagai "kemenangan besar bagi rakyat Iran". Dia menambahkan bahwa sanksi-sanksi terkait minyak dan petrokimia "telah dicabut sesuai dengan nota kesepahaman tersebut".
Ketegangan Baru di Selat Hormuz
Pernyataan Pezeshkian muncul saat negosiasi lanjutan antara kedua negara menghadapi tantangan setelah aksi saling serang pada akhir pekan, menyusul perselisihan mengenai Selat Hormuz. Iran melancarkan serangan rudal dan drone yang menargetkan Bahrain dan Kuwait, yang menampung aset militer AS, pada Minggu (28/7) waktu setempat. Teheran mengklaim serangannya itu membalas gempuran terbaru Washington terhadap sejumlah target di wilayah Iran bagian selatan.
Sementara itu, AS menuduh Iran telah melanggar gencatan senjata dengan menyerang kapal kargo di Selat Hormuz. Washington mengklaim pasukannya melancarkan serangan untuk merespons "agresi yang tidak beralasan oleh pasukan Iran terhadap pelayaran komersial".
Mediator dan Pembicaraan Teknis
Pihak mediator konflik telah membangun saluran komunikasi untuk meredakan ketegangan akibat insiden apapun, dengan pembicaraan teknis antara Iran dan AS akan terus berlanjut. Dua pekan lalu, Iran dan AS meneken MoU untuk mengakhiri perang, yang mencakup ketentuan penghentian permusuhan di semua front termasuk Lebanon, pencabutan blokade laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, dan pembukaan kembali Selat Hormuz bagi pasokan energi global.



