Bandar Lampung – Hamparan hijau dengan gemericik air, pepohonan rindang, dan ribuan lebah madu kini menghiasi kawasan yang dulunya merupakan tambang batu gersang di Bandar Lampung. Transformasi ini melahirkan Lembah Suhita, destinasi wisata alam yang berlokasi di Jalan Batin Mangku Negara, Batu Putuk, Kecamatan Teluk Betung Utara, Kota Bandar Lampung.
Dari Tambang Batu Menjadi Sanctuary
Kawasan seluas satu hektare ini mengusung tagline "From Quarry to Sanctuary". Adinda Putri Anastasia, Tim Marketing Lembah Suhita, menjelaskan bahwa lahan bekas tambang batu perlahan diubah menjadi kawasan konservasi dan eduwisata. Perubahan besar dimulai pada 2016 oleh pemilik Lembah Suhita, Suyadi, yang juga dikenal sebagai pelaku usaha madu merek "Madu Suhita".
Batu-batu bekas tambang tidak dibuang, melainkan dimanfaatkan kembali untuk membangun ekosistem baru. Penanaman vegetasi dilakukan bertahap, dan sistem pengairan dibangun dengan memanfaatkan mata air alami. Adinda menambahkan, "Owner kami memang memiliki keahlian di bidang perlebahan. Bahkan beliau sempat mendalami budidaya lebah selama dua tahun di Australia. Sekarang ekosistem yang terbentuk sudah sangat mendukung perkembangan koloni lebah madu."
Wisata Gratis dengan Syarat Minimal Belanja
Berbeda dengan tempat wisata umum, Lembah Suhita tidak memberlakukan tiket masuk atau biaya parkir. Pengunjung cukup melakukan pembelian produk di galeri atau kafe dengan minimal transaksi Rp 25 ribu per orang. Produk yang tersedia meliputi madu, makanan, minuman, hingga produk UMKM lokal. Dengan nominal tersebut, pengunjung dapat menikmati seluruh area wisata tanpa biaya tambahan.
Salah satu aktivitas favorit adalah barefoot grounding, yaitu berjalan tanpa alas kaki di jalur khusus yang menggunakan batu-batu alami. Menurut Adinda, konsep ini menjadi bagian dari gaya hidup sehat. "Grounding membuat kita lebih dekat dengan alam. Saat kaki menyentuh tanah dan batu secara langsung, tubuh menjadi lebih rileks dan membantu mengurangi stres," ungkapnya.
Pengunjung juga dapat bermain di aliran sungai jernih, piknik bersama keluarga, bersantai di gazebo, atau menikmati udara pegunungan. Anak-anak bisa menangkap ikan, mengenal ekosistem lebah, dan belajar menjaga lingkungan melalui kegiatan edukatif.
Fokus pada Edukasi Lingkungan
Lembah Suhita sering menjadi lokasi kegiatan luar ruangan bagi sekolah dan komunitas. Adinda menekankan pentingnya edukasi lingkungan untuk generasi muda. "Kami ingin anak-anak mengenal alam sejak dini. Mereka adalah generasi emas yang nantinya akan menjaga lingkungan. Karena itu kami banyak bekerja sama dengan sekolah dan komunitas agar anak-anak bisa belajar langsung di alam," ujarnya.
Kesadaran tentang peran lebah dalam penyerbukan tanaman juga diperkenalkan kepada pengunjung. Di tengah pesatnya pembangunan Kota Bandar Lampung, Lembah Suhita menjadi oase baru bagi masyarakat yang ingin menjauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Dari bekas tambang batu yang nyaris tanpa kehidupan, kawasan ini kini menjelma menjadi ruang hijau yang memberikan manfaat ekonomi, edukasi, dan konservasi.



