Fenomena suhu dingin yang dikenal sebagai bediding tengah melanda sejumlah wilayah di Pulau Jawa, terutama pada malam hingga pagi hari. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa suhu terendah tercatat di kawasan Dieng, Jawa Tengah, yang hampir mencapai titik beku, yaitu 0,7 derajat Celcius. Sementara itu, di Gunung Bromo, suhu mencapai 3,9 derajat Celcius pada awal Juni lalu.
Penyebab Fenomena Bediding
BMKG menjelaskan bahwa fenomena ini dipengaruhi oleh penguatan Monsun Australia. Angin musim ini membawa massa udara kering yang mengurangi kandungan uap air dan pembentukan awan di atmosfer. Minimnya tutupan awan menyebabkan panas dari permukaan bumi lebih mudah terlepas ke atmosfer pada malam hari, sehingga suhu turun signifikan saat dini hari.
"Data BMKG 10 tahun terakhir mencatat penurunan suhu mulai terasa di bulan Juli dan mencapai puncaknya pada Juli sampai Agustus. Sebagai contoh, Kabupaten Malang suhunya bisa drop hingga di bawah 19,5 derajat Celcius, jauh lebih dingin dibandingkan Jakarta yang relatif stabil hangat," demikian keterangan BMKG di Instagram resmi, Senin (27/7/2026). "Hal ini juga menunjukkan peran topografi dan elevasi dataran tinggi dalam mengunci hawa dingin."
Daerah Paling Terdampak
Pengamatan melalui peta Land Surface Temperature (LST) malam dari sensor MODIS pada satelit cuaca memperlihatkan zona bersuhu rendah yang membentang mengikuti deretan pegunungan di Pulau Jawa. Hal tersebut menegaskan bahwa kawasan pegunungan menjadi wilayah yang paling terdampak fenomena bediding. Selain Dieng dan Bromo, daerah dataran tinggi lain seperti Malang juga mengalami suhu rendah ekstrem.
Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi FMIPA IPB University, Dr Givo Alsepan, memperkirakan fenomena ini berpotensi berlangsung hingga puncak musim kemarau, sekitar akhir Juli hingga Agustus, bahkan di beberapa wilayah dapat berlanjut hingga awal September. "Indonesia saat ini berada pada musim kemarau yang dipengaruhi monsun Australia, sedangkan Eropa, Amerika Utara, maupun sebagian Asia Timur sedang memasuki musim panas," ujarnya, dikutip dari laman IPB.
Tips Menghadapi Bediding 2026
BMKG mengimbau masyarakat untuk menjaga kesehatan selama fenomena bediding. Dua hal utama yang disarankan adalah memastikan asupan nutrisi dan minuman hangat tercukupi untuk menjaga imunitas tubuh, serta memakai pelembap guna mencegah kulit kering dan pecah-pecah akibat udara dingin. Fenomena bediding ini tidak hanya berdampak pada suhu, tetapi juga menyebabkan embun beku di dedaunan di kawasan dataran tinggi seperti Bromo, yang tampak seperti hamparan salju.
Fenomena ini menjadi perhatian warga di media sosial yang mengeluhkan udara dingin yang menusuk. Meski demikian, bediding merupakan bagian dari siklus musim kemarau yang normal di Indonesia. Dengan memahami penyebab dan cara menghadapinya, masyarakat dapat tetap beraktivitas dengan nyaman.



