Riset UI Buka Fakta Masalah Implementasi Program Makanan Bergizi Gratis
Pusat Kajian Sosiologi Universitas Indonesia (LabSosio) mengungkapkan sederet temuan kritis dalam evaluasi implementasi program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Riset yang dilakukan pada Oktober hingga Desember 2025 ini melibatkan 1.267 responden dari lima kabupaten dan kota, mengungkap berbagai kendala yang perlu segera diperbaiki.
Keluhan Kesehatan dan Masalah Distribusi
Ketua LabSosio-LPPSP FISIP UI, Hari Nugroho, menyatakan bahwa dari total responden, 19 persen melaporkan mengalami sakit perut setelah mengonsumsi MBG, sementara 12 persen lainnya tidak ingat atau lupa. Presentase keluhan sakit perut ini menjadi alarm serius karena diduga berkaitan dengan kurang terkontrolnya kualitas makanan yang didistribusikan.
"Perlunya pengawasan ketat terhadap MBG yang diberikan kepada siswa, termasuk memperhatikan suhu makanan saat distribusi," tegas Hari dalam seminar di Universitas Indonesia, Rabu (4/3/2026). Ia menjelaskan bahwa makanan yang terlalu dingin tidak hanya kurang enak, tetapi juga berisiko cepat basi dan membahayakan kesehatan siswa.
Kebosanan Siswa dan Siklus Menu yang Monoton
Riset juga menemukan fenomena kebosanan di kalangan siswa penerima MBG. Hal ini terutama terjadi pada menu yang diulang-ulang tanpa variasi, membuat anak-anak kehilangan selera makan. "Ini menjadi sangat penting untuk memperhatikan siklus menu agar tidak monoton," kata Hari.
Di Kupang, misalnya, ikan yang disajikan dalam MBG seringkali dianggap kurang segar dibandingkan hasil tangkapan nelayan lokal atau yang disiapkan orang tua. "Karakteristik wilayah perlu menjadi pertimbangan dalam penyusunan menu," tambahnya.
Sayuran Menjadi Makanan Paling Banyak Terbuang
Temuan mengejutkan lainnya adalah tingginya pembuangan sayuran dalam program MBG. Hasil riset menunjukkan bahwa sayuran menjadi jenis makanan yang paling sering tidak habis dikonsumsi oleh siswa sekolah dasar.
"Ini krusial dalam pembahasan gizi, karena sayuran justru sering dibuang dengan alasan rasanya tidak enak menurut anak-anak," terang Hari. Fenomena ini mengindikasikan perlunya inovasi dalam pengolahan dan penyajian sayuran agar lebih menarik bagi selera siswa.
Rekomendasi Perbaikan Menyeluruh
Berdasarkan temuan ini, LabSosio UI merekomendasikan serangkaian perbaikan mendesak untuk mengoptimalkan program MBG:
- Prioritisasi penerima manfaat yang lebih tepat sasaran
- Perbaikan sistem distribusi termasuk pengawasan suhu makanan
- Akurasi penentuan menu dengan mempertimbangkan karakteristik daerah
- Variasi siklus menu untuk menghindari kebosanan siswa
- Inovasi penyajian sayuran agar lebih diterima anak-anak
"Program MBG memiliki potensi besar untuk mendukung gizi dan kesehatan siswa, namun perlu pembenahan di berbagai lini agar lebih optimal," pungkas Hari Nugroho menegaskan pentingnya evaluasi berkelanjutan terhadap program pemerintah ini.
