Dugaan Pemalsuan Penelitian oleh WNI di Denmark Mencuat
Dugaan Pemalsuan Penelitian WNI di Denmark

KOMPAS.com - Dugaan pemalsuan penelitian oleh sekelompok Warga Negara Indonesia (WNI) di ISPPD, sebuah konferensi ilmiah tentang pneumonia di Denmark, tiba-tiba mencuat pada Selasa (26/5/2026) dan menjadi pembahasan warganet di media sosial. Perlahan terungkap bahwa kelompok tersebut terdiri dari Rifaldy Fajar (ketua tim), Prihantini, Sahnaz Vivinda (adik Rifaldy), dan dalam penelitian lain juga diketahui melibatkan ibu Rifaldy, Elfiany Syafruddin. Warganet berbondong-bondong mengecam tindakan mereka hingga seluk-beluk perjalanan penelitian selama ini terungkap.

Kronologi Pengungkapan

Pengungkapan ini bermula dari unggahan di media sosial yang menyoroti kejanggalan dalam penelitian yang dipresentasikan di konferensi tersebut. Setelah ditelusuri, ditemukan bahwa beberapa data dan metodologi penelitian diduga dipalsukan. Hal ini memicu kemarahan publik, terutama dari kalangan akademisi dan peneliti.

Tokoh yang Terlibat

  • Rifaldy Fajar: Sebagai ketua tim, ia diduga menjadi otak di balik pemalsuan ini.
  • Prihantini: Anggota tim yang turut serta dalam penelitian.
  • Sahnaz Vivinda: Adik Rifaldy yang juga terlibat.
  • Elfiany Syafruddin: Ibu Rifaldy yang diketahui terlibat dalam penelitian lain.

Reaksi Warganet

Warganet ramai-ramai mengecam tindakan mereka. Banyak yang menuntut investigasi lebih lanjut dan sanksi tegas bagi para pelaku. Tagar terkait pemalsuan ini pun menjadi trending topic di media sosial.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Dampak Terhadap Dunia Akademik

Kasus ini mencoreng nama baik peneliti Indonesia di kancah internasional. Banyak pihak yang menyayangkan kejadian ini dan berharap agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan. Integritas penelitian harus dijaga untuk kemajuan ilmu pengetahuan.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga