BRIN Kembangkan Bioplastik Singkong, 90% Terurai dalam 6 Hari
BRIN Kembangkan Bioplastik Singkong Terurai 6 Hari

BRIN Teliti Bioplastik dari Pati Singkong, 90% Terurai dalam Waktu 6 Hari

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah melakukan penelitian mendalam mengenai bioplastik berbasis pati singkong. Inovasi ini diharapkan dapat menjadi solusi efektif untuk mengurangi limbah plastik konvensional yang sulit terurai dan mencemari lingkungan.

Solusi Ramah Lingkungan dari Bahan Alami

Bioplastik merupakan material berkelanjutan yang dibuat dari polimer alami seperti pati, selulosa, kitosan, protein, dan lemak, yang semuanya bersumber dari bahan terbarukan. Menurut peneliti Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP) BRIN, Rina Wahyuningsih, bioplastik dapat terurai secara alami oleh mikroorganisme tanpa meninggalkan racun berbahaya di lingkungan.

"Bioplastik dapat terurai di tanah hingga 60-90 persen dalam waktu enam hari, berbeda dengan plastik konvensional yang membutuhkan waktu puluhan tahun untuk terurai," jelas Rina, seperti dilansir dari laman resmi BRIN pada Selasa, 24 Februari 2026.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Peran Gelatin dalam Meningkatkan Kualitas Bioplastik

Meski ramah lingkungan, bioplastik memiliki kelemahan dalam sifat mekanik dan ketahanan air karena sifat hidrofilik pati. Untuk mengatasi hal ini, penambahan plasticizer seperti gelatin diperlukan. Gelatin, yang berasal dari kolagen terhidrolisis dalam jaringan ikat hewan, memiliki sifat hidrokoloid yang memungkinkannya membentuk lembaran tipis dan elastis, ideal untuk produksi bioplastik.

Rina menambahkan, "Di Indonesia, membran cangkang telur ayam kampung (INCES) masih banyak tersedia dan belum dieksplorasi sebagai sumber gelatin. INCES mengandung 31% kolagen, yang sangat berpotensi untuk produksi bioplastik."

Kelebihan dan Tantangan Pengembangan Bioplastik

Bioplastik menawarkan sejumlah keunggulan dibanding plastik konvensional:

  • Kemampuan terurai alami tanpa residu berbahaya.
  • Pengurangan emisi karbon dan dukungan terhadap gaya hidup zero waste.
  • Lebih digemari konsumen karena ramah lingkungan dan mudah didaur ulang.

Namun, terdapat tantangan yang perlu diatasi:

  1. Biaya produksi yang lebih tinggi.
  2. Keterbatasan ketahanan terhadap panas, kelembaban, dan isolasi.
  3. Lebih cocok untuk produk sekali pakai seperti kemasan makanan, minuman, atau produk organik.

Penelitian ini merupakan bagian dari upaya menuju ekonomi sirkular, dengan tujuan mengurangi sampah plastik dan menciptakan rantai produksi yang berkelanjutan untuk kemasan masa depan.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga