Suara Kritis dari Generasi Muda: Aturan Nonaktif Akun Medsos untuk Anak di Bawah 16 Tahun Ditolak
Sebuah keluhan mencuat dari Zeevardhana MPA, seorang siswi Sekolah Dasar berusia 12 tahun di Jakarta Timur, yang dengan tegas menyatakan ketidaksetujuannya terhadap wacana penonaktifan akun media sosial untuk anak di bawah 16 tahun. Dalam tulisannya, ia mengungkapkan bahwa aturan ini dianggap tidak adil dan menghambat perkembangan positif generasi muda.
Medsos Bukan Hanya Hiburan, Tapi Juga Sumber Belajar
Zeevardhana menjelaskan bahwa definisi "di bawah 16 tahun" tidak hanya mencakup anak kecil, tetapi juga remaja seperti dirinya. Ia sering memanfaatkan media sosial untuk mencari pembahasan soal-soal ujian, belajar hal baru, hingga mengeksplorasi eksperimen resep makanan. "Ingat, tidak semua tentang medsos itu buruk. Kami dapat mencari hal yang baik di sana," tegasnya.
Menurutnya, aturan yang awalnya dibuat untuk melindungi anak dari konten negatif seperti pornografi, cyberbullying, dan penipuan, justru bisa diatasi dengan kesadaran diri. "Saya bukan anak yang polos yang dikit-dikit bisa kena tipu online. Semua itu bisa dihindari dengan sadar diri, bukan malah dinonaktifkan," ujarnya.
Kebutuhan Sosial dan Ekonomi yang Terancam
Sebagai murid kelas 6, Zeevardhana mengaku membutuhkan platform media sosial untuk berkomunikasi dengan teman, belajar, dan hiburan setelah lelah mengerjakan tugas. Ia juga menekankan bahwa penggunaannya selalu didampingi orang tua dengan batas waktu yang terkontrol.
Lebih jauh, ia menyoroti dampak ekonomi dari aturan ini. Konten kreator seperti streamer dan selebritas bisa kehilangan banyak penonton, yang merupakan sumber pendapatan mereka. Zeevardhana, yang merupakan penggemar esports khususnya Mobile Legends: Bang Bang (MLBB), mengungkapkan bahwa esports memiliki potensi besar dalam menggerakkan perekonomian.
"Menurut data, esports dapat menghasilkan mulai dari puluhan juta rupiah hingga miliaran per bulan. Indonesia adalah salah satu negara dengan peluang perkembangan esports yang sangat baik," paparnya. Ia menambahkan bahwa rata-rata pemain esports memulai karirnya dari usia 15 tahun ke atas, bahkan ada yang mulai bermain sejak usia 12 tahun.
Sebagai contoh, ia menyebutkan seorang anak berusia 11 tahun yang memiliki potensi di MLBB dan direkrut oleh tim besar, dengan informasi tersebut diperoleh dari media sosial. "Semua yang tadi saya sebutkan itu berasal dari informasi sosial media," tandasnya.
Solusi: Pengawasan Ketat dan Literasi Berkelanjutan
Dalam kesimpulannya, Zeevardhana menegaskan bahwa media sosial tetap dibutuhkan untuk anak di bawah 16 tahun, namun harus disertai dengan pengawasan yang ketat dan upaya literasi digital yang terus-menerus dari semua pihak, termasuk orang tua, pemerintah, dan sekolah. "Selain itu, kita juga harus bisa mengendalikan diri dan sadar diri agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan," imbaunya.
Keluhan ini hingga kini belum mendapatkan tanggapan resmi dari pihak terkait, menimbulkan pertanyaan tentang sejauh mana suara anak muda dipertimbangkan dalam pembuatan kebijakan digital.
