Hardiknas 2026: Peringatan Pendidikan Nasional Tanggal 2 Mei
Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 akan jatuh pada tanggal 2 Mei. Peringatan nasional ini tidak hanya sekadar tanggal di kalender, tetapi juga merupakan momen untuk mengenang hari lahir Ki Hadjar Dewantara, yang dijuluki sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Berikut adalah serba-serbi lengkap mengenai peringatan ini, dari sejarah penetapan hingga sosok di baliknya.
Sejarah Penetapan Hardiknas
Dirangkum dari berbagai sumber, Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap 2 Mei ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia melalui Keputusan Presiden (Keppres) RI Nomor 316 Tahun 1959. Penetapan ini merupakan wujud nyata kepedulian pemerintah terhadap pentingnya pendidikan di Indonesia.
Latar belakang penetapan Hardiknas berakar pada sosok Ki Hadjar Dewantara, yang lahir pada tanggal 2 Mei 1889. Tanggal kelahirannya kemudian ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional, sebagaimana tercantum dalam Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 305 tahun 1959 tertanggal 28 November 1959.
Peringatan Hardiknas setiap tahun tidak hanya untuk mengenang Ki Hadjar Dewantara sebagai Bapak Perintis Pendidikan Nasional, tetapi juga sebagai momentum untuk menumbuhkan kembali rasa patriotisme dan nasionalisme di kalangan seluruh insan pendidikan.
Apakah Hardiknas Merupakan Hari Libur?
Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei bukan hari libur nasional. Hal ini didasarkan pada Keppres RI Nomor 67 Tahun 1961 tentang Hari-hari Nasional yang Bukan Hari Libur. Keputusan ini menegaskan bahwa Hardiknas termasuk dalam kategori hari nasional yang tetap dijalani aktivitas normal, tanpa libur resmi.
Sosok Ki Hadjar Dewantara: Pejuang Pendidikan
Ki Hadjar Dewantara, dengan nama asli Raden Mas Suwardi Suryaningrat, lahir pada 2 Mei 1889 di Yogyakarta. Ia adalah putra dari GPH Soerjaningrat dan cucu dari Sri Paku Alam III, berasal dari keturunan bangsawan Jawa.
Sepanjang hidupnya, Ki Hadjar Dewantara gigih memperjuangkan hak-hak kesetaraan bagi kaum bumiputera, khususnya dalam bidang pendidikan. Ia dikenal karena keberaniannya menentang kebijakan pendidikan pemerintah Hindia-Belanda pada masa itu.
Dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara sering mengkritik pemerintah hingga diasingkan ke Belanda bersama dua tokoh lainnya, yaitu Ernest Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo. Ketiganya kemudian dikenal sebagai "Tiga Serangkai".
Setelah kembali dari pengasingan, Ki Hadjar Dewantara mendirikan lembaga pendidikan Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa (Perguruan Nasional Tamansiswa). Ia menciptakan tiga semboyan yang melekat erat dalam dunia pendidikan:
- Ing ngarso sung tulodo: di depan memberi teladan
- Ing madyo mangun karso: di tengah memberi bimbingan
- Tut wuri handayani: di belakang memberi dorongan
Di masa kemerdekaan, Ki Hadjar Dewantara diangkat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan dalam kabinet pertama Republik Indonesia. Pada tahun 1957, ia menerima gelar doktor kehormatan (doctor honoris causa, Dr.H.C.) dari Universitas Gadjah Mada (UGM).
Ki Hadjar Dewantara meninggal dunia pada tanggal 28 April 1959 di Yogyakarta. Atas jasa dan perjuangannya dalam bidang pendidikan, ia dijuluki sebagai Bapak Pendidikan Indonesia atau Bapak Pendidikan Nasional.



