Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMA sederajat tahun 2024 menunjukkan bahwa mata pelajaran Matematika masih menjadi tantangan terbesar bagi siswa di seluruh Indonesia. Berdasarkan data resmi dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), nilai rata-rata Matematika TKA hanya mencapai 36,10 dari skala 100,00—angka terendah di antara semua mata pelajaran yang diujikan.
Rendahnya Capaian Nasional Matematika
Informasi ini diunggah melalui akun Instagram resmi @litbangdikbud pada Kamis, 30 Juli 2026. Di dalam unggahan tersebut, disebutkan bahwa data capaian nasional berasal dari 3.464.569 peserta TKA SMA sederajat. Rata-rata nasional nilai Matematika berada di bawah 31 persen, menunjukkan bahwa sebagian besar siswa belum menguasai materi secara memadai.
Angka ini mengonfirmasi bahwa Matematika masih menjadi momok bagi peserta TKA. Ketika dibandingkan dengan mata pelajaran lain, selisih nilai cukup signifikan, meskipun data detail untuk setiap mata pelajaran belum dipublikasikan secara terbuka.
Materi yang Dianggap Sulit
Menurut informasi yang dihimpun, terdapat beberapa materi Matematika yang dinilai paling sulit oleh para siswa. Meskipun rincian spesifik belum diungkap, indikasi umum mengarah pada topik seperti aljabar, geometri, dan statistika. Kemendikdasmen diharapkan segera merilis analisis lebih mendalam agar pihak sekolah dapat memfokuskan perbaikan pengajaran.
Rendahnya nilai Matematika ini berdampak pada kesiapan siswa untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi atau mengikuti seleksi sekolah kedinasan. Seperti diketahui, TKA merupakan salah satu syarat penting dalam pendaftaran sekolah kedinasan tahun 2026.
Langkah Perbaikan ke Depan
Kondisi ini mendorong perlunya evaluasi kurikulum dan metode pembelajaran Matematika di tingkat SMA. Guru dan tenaga pendidik didorong untuk mengadopsi pendekatan yang lebih interaktif dan kontekstual agar siswa lebih mudah memahami konsep-konsep abstrak. Selain itu, intensitas latihan soal dan bimbingan belajar juga perlu ditingkatkan.
Kemendikdasmen diharapkan dapat merancang program remedial atau pengayaan yang terstruktur untuk daerah-daerah dengan rata-rata capaian rendah. Dengan demikian, di masa mendatang nilai Matematika TKA dapat meningkat dan tidak lagi menjadi hambatan bagi prestasi akademik siswa.



