Kisah Lina, Guru BK Honorer yang Tak Pernah Digaji dan Khawatirkan Nasib
Kisah Lina, Guru BK Honorer Tak Digaji Khawatir Nasib

Seorang guru Bimbingan Konseling (BK) honorer di Jawa Barat, Lina, mengungkapkan kisah pilu selama mengajar tanpa menerima gaji. Ia telah mengabdi selama bertahun-tahun namun tidak pernah mendapatkan penghasilan yang layak.

Pengabdian Tanpa Imbalan

Lina mengajar di sebuah sekolah menengah pertama di daerah terpencil. Setiap hari ia datang ke sekolah untuk memberikan bimbingan kepada siswa. Namun, alih-alih mendapat gaji, ia hanya menerima ucapan terima kasih dari pihak sekolah.

"Saya sudah mengabdi selama lima tahun, tapi tidak pernah menerima gaji sepeser pun. Kadang saya hanya diberi uang transportasi jika ada dana dari sekolah," ujar Lina saat ditemui di sekolahnya.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Kekhawatiran akan Masa Depan

Lina mengaku khawatir dengan nasibnya ke depan. Ia memiliki tanggungan keluarga dan harus memenuhi kebutuhan sehari-hari. "Saya ingin terus mengajar, tapi bagaimana saya bisa bertahan jika tidak ada gaji?" keluhnya.

Ia berharap pemerintah daerah dan pusat dapat memperhatikan kesejahteraan guru honorer. Banyak guru honorer yang mengalami nasib serupa, mengabdi tanpa kepastian penghasilan.

Harapan Perubahan

Lina berharap ada kebijakan yang jelas mengenai penggajian guru honorer. "Kami hanya ingin dihargai. Kami juga punya keluarga yang perlu dinafkahi," tambahnya.

Kisah Lina menjadi cerminan masih banyaknya guru honorer di Indonesia yang berjuang untuk mendapatkan haknya. Pemerintah diharapkan segera mengambil langkah konkret untuk menyelesaikan masalah ini.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga