Pengabdian Tanpa Batas: Kisah Guru Najib Bertaruh Nyawa di Sungai Demi Pendidikan
Guru Najib Bertaruh Nyawa di Sungai Demi Pendidikan

Pengabdian Tanpa Batas: Kisah Guru Najib Bertaruh Nyawa di Sungai Demi Pendidikan

Di sudut terpencil Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, tepatnya di SD Negeri Terpencil Bainaa Barat, seorang guru muda bernama Najib Nadir menjadi sorotan publik. Bukan karena kemewahan atau pencapaian spektakuler, melainkan melalui rekaman sederhana di media sosial yang mengungkap realitas pahit pendidikan di wilayah terdepan Indonesia. Konten-kontennya, yang direkam spontan dengan kamera ponsel, menampilkan pengabdiannya yang luar biasa dalam memastikan anak-anak pelosok tetap bersekolah, meski harus bertaruh nyawa menyeberangi sungai berarus deras.

Dari Mahasiswa Berprestasi ke Guru di Daerah Terpencil

Sebelum mengenakan seragam abdi negara, Najib adalah mahasiswa berprestasi di Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Negeri Makassar. Kuliahnya dibiayai penuh oleh beasiswa pemerintah, namun setelah lulus, ia memilih untuk mengabdi di daerah terpencil. "Awal mula jadi guru, ya memang karena di saat pemilihan jurusan itu saya aktif mengikuti berbagai kegiatan volunteer," kenang Najib dalam wawancara dengan Liputan6.com pada Selasa, 14 April 2026. Pengalaman sukarela selama kuliah, yang menghabiskan waktunya menjelajahi wilayah pelosok untuk membawa ilmu dan bantuan, membentuk tekadnya untuk mengambil formasi PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja) di Parigi Moutong, meski ia berasal dari Sulawesi Barat.

Kesenjangan Pendidikan yang Menyentuh Hati

Selama lima bulan mengabdi di Bainaa Barat, Najib menyaksikan langsung kesenjangan pendidikan yang dalam. Tantangan tidak hanya terletak pada fasilitas bangunan yang terbatas, tetapi juga pada kesejahteraan rekan-rekan guru senior. Ia menceritakan tentang para guru yang dedikasinya tak diragukan, namun terkendala oleh urusan administrasi. "Ada rekan kami yang tiga tahun lagi pensiun, tapi karena terkendala ijazah S1, statusnya masih PPPK paruh waktu—di bawah honorer kesejahteraannya," ungkap Najib dengan nada prihatin. Beruntung, pemerintah mulai memfasilitasi guru-guru senior tersebut untuk menyelesaikan pendidikan sarjana, memberikan secercah harapan bagi perbaikan kondisi.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Taruhan Nyawa di Atas Arus Sungai

Tantangan terbesar yang dihadapi Najib dan murid-muridnya adalah masalah keselamatan. Di daerah terpencil, sekolah seringkali menjadi tempat yang paling berbahaya untuk dijangkau. Siswa-siswa harus menyeberangi sungai berarus deras tanpa jembatan yang layak, mempertaruhkan nyawa demi mendapatkan pendidikan. "Angka putus sekolah di sekolah terpencil itu bukan cuma karena kendala biaya, tapi juga kendala keselamatan," tegas Najib. Viralnya video pengabdiannya telah menarik perhatian pemerintah untuk mempercepat pembangunan jembatan di wilayah tersebut, namun Najib berharap perhatian ini tidak hanya terbatas pada sekolahnya saja.

Harapan untuk Pendidikan yang Lebih Merata

Najib menyadari bahwa keberuntungannya menjadi viral mungkin telah membawa perubahan positif bagi Bainaa Barat, tetapi ia mengingatkan bahwa masih banyak guru dan anak-anak di pelosok Parigi Moutong lainnya yang menghadapi tantangan serupa tanpa mendapat sorotan. "Mungkin kami bisa dibilang beruntung karena viral. Tapi banyak rekan-rekan kami yang juga berada di wilayah terpencil dan aksesnya sangat-sangat sulit, tapi kurang mendapatkan perhatian," tuturnya. Dengan semangat yang tak kenal lelah, ia berharap agar akses pendidikan yang aman dan berkualitas dapat merata hingga ke ujung Indonesia, menginspirasi lebih banyak pihak untuk peduli pada nasib pendidikan di daerah terpencil.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga