Kisah perjuangan dua calon mahasiswa, Kesya dan Bintang, dalam menempuh perjalanan ribuan kilometer untuk mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) demi meraih kampus impian mereka menginspirasi banyak orang. Keduanya berasal dari daerah terpencil di Indonesia timur dan harus menghadapi berbagai tantangan demi mewujudkan mimpi melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi negeri.
Perjalanan Jauh dan Penuh Tantangan
Kesya, seorang siswi dari Papua, harus menempuh perjalanan darat dan laut selama tiga hari untuk mencapai lokasi ujian di Makassar. Sementara itu, Bintang dari Nusa Tenggara Timur harus menggunakan kapal feri dan bus selama dua hari untuk tiba di Surabaya. Keduanya mengaku lelah, tetapi semangat untuk meraih kampus impian menjadi pendorong utama.
Dukungan Keluarga dan Sekolah
Kesya mengungkapkan bahwa keluarganya sangat mendukung perjuangannya. Orang tuanya bahkan menjual hasil kebun untuk membiayai perjalanannya. Bintang pun mendapat dukungan penuh dari guru-gurunya di sekolah yang memberikan motivasi dan bimbingan belajar tambahan sebelum UTBK.
Perjuangan mereka tidak hanya berhenti pada perjalanan fisik. Selama di perjalanan, mereka harus belajar di sela-sela waktu istirahat, mengingat materi UTBK yang sangat banyak. Kesya dan Bintang mengaku sering belajar di pelabuhan atau terminal saat menunggu transportasi.
Harapan dan Cita-Cita
Kesya bercita-cita menjadi dokter dan ingin berkuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Sementara itu, Bintang ingin menjadi insinyur pertanian di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Keduanya berharap perjuangan mereka membuahkan hasil dan bisa lolos seleksi UTBK.
Kisah Kesya dan Bintang menjadi contoh bahwa keterbatasan geografis dan ekonomi tidak menghalangi seseorang untuk bermimpi dan berjuang menggapai cita-cita. Semangat dan kegigihan mereka patut diapresiasi dan menjadi inspirasi bagi generasi muda lainnya di seluruh Indonesia.



