Pasangan Penerima Beasiswa LPDP Viral karena Pernyataan Kontroversial tentang WNI
Pasangan LPDP Viral karena Pernyataan Kontroversial tentang WNI

Pasangan Penerima Beasiswa LPDP Jadi Sorotan Publik karena Unggahan Video Kontroversial

Nama Arya Pamungkas Iwantoro dan Dwi Sasetyaningtyas saat ini menjadi pusat perhatian publik di Indonesia. Pasangan suami istri yang merupakan penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) ini ramai diperbincangkan setelah Dwi Sasetyaningtyas, yang akrab disapa Tyas, mengunggah sebuah video yang memicu kontroversi dan kemarahan warganet.

Isi Video yang Memicu Kemarahan Warganet

Dalam video tersebut, Tyas dinilai telah merendahkan Indonesia melalui pernyataannya yang menyatakan kebanggaan bahwa anaknya menjadi Warga Negara Asing (WNA). Ia mengungkapkan, "cukup aku saja yang WNI, anakku jangan". Pernyataan ini dengan cepat menyebar di berbagai platform media sosial dan menuai kritik tajam dari banyak pihak.

Dikutip dari laporan media, video ini pertama kali muncul pada Sabtu, 21 Februari 2026. Tyas diketahui merupakan alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB), sebuah perguruan tinggi ternama di Indonesia, yang menambah sorotan pada latar belakang pendidikannya.

Reaksi Publik dan Dampaknya

Warganet bereaksi dengan berbagai komentar yang mengecam pernyataan Tyas, dengan banyak yang menyebutnya tidak menghargai status Warga Negara Indonesia (WNI). Beberapa poin yang menjadi perhatian publik meliputi:

  • Kontras antara penerima beasiswa LPDP yang didanai negara dengan pernyataan yang dianggap merendahkan Indonesia.
  • Pertanyaan tentang etika dan tanggung jawab sosial sebagai penerima manfaat dari program pemerintah.
  • Dampak potensial pada reputasi LPDP dan institusi pendidikan terkait.

Insiden ini menyoroti pentingnya kesadaran akan nilai-nilai kebangsaan dalam era digital, di mana pernyataan pribadi dapat dengan cepat menjadi viral dan mempengaruhi persepsi publik. Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari Arya Pamungkas Iwantoro atau Dwi Sasetyaningtyas mengenai kontroversi ini.