FIFA Resmi Larang Vuvuzela di Piala Dunia 2026, Ini Alasannya
FIFA Larang Vuvuzela di Piala Dunia 2026

FIFA secara resmi melarang penggunaan vuvuzela, terompet plastik berwarna cerah yang berasal dari Afrika Selatan, dalam gelaran Piala Dunia 2026. Keputusan ini diambil karena vuvuzela dianggap berpotensi mengganggu komunikasi antara pemain dan wasit di lapangan. Selain itu, alat musik ini juga diklaim dapat menyulitkan proses siaran pertandingan sehingga mengurangi kualitas pengalaman menonton bagi pemirsa di seluruh dunia.

Sejarah Vuvuzela di Piala Dunia

Vuvuzela menjadi identik dengan Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Saat itu, para pendukung tuan rumah dengan antusias meniupkan terompet yang mengeluarkan bunyi seperti lebah ini untuk mendukung tim kesayangan mereka. Kehadiran vuvuzela pada turnamen tersebut memicu pro dan kontra di kalangan penggemar sepak bola global.

Pro dan Kontra Vuvuzela

Sebagian pihak menganggap bunyi vuvuzela sebagai bentuk ekspresi dukungan dan bagian dari budaya sepak bola Afrika Selatan yang unik. Namun, tidak sedikit yang mengeluhkan kebisingan yang dihasilkan, yang dinilai mengganggu konsentrasi pemain dan kenyamanan penonton. Kritik juga datang dari penyiar televisi yang kesulitan menangkap audio pertandingan dengan jelas akibat suara vuvuzela yang dominan.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Dengan larangan ini, FIFA berharap dapat menciptakan lingkungan pertandingan yang lebih kondusif bagi semua pihak, termasuk pemain, wasit, ofisial, dan penonton. Keputusan ini juga sejalan dengan upaya FIFA untuk terus meningkatkan kualitas penyelenggaraan Piala Dunia di masa mendatang.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga