Ketabahan Azizah, Bocah 6 Tahun di Jogja yang Rawat Ayah Sakit dan Ikut Memulung
Sebuah kisah ketabahan luar biasa datang dari Kota Jogja, di mana seorang anak TK bernama Azizah Chandrasari (6 tahun) harus merawat ayahnya yang sakit sembari ikut membantu mencari nafkah dengan memulung. Kehidupan penuh perjuangan ini akhirnya mendapat perhatian luas setelah viral di media sosial.
Kondisi Keluarga yang Memprihatinkan
Azizah tinggal bersama ayahnya, Hermanto (56), dan adik laki-lakinya, Agip Pranata (5), di sebuah kamar kos berukuran sangat kecil, hanya 3x3 meter, di daerah Mrican, Giwangan, Umbulharjo, Kota Jogja. Lokasi kamar mereka sangat dekat dengan bibir Kali Gajah Wong, kurang lebih hanya berjarak 2 meter.
Hermanto mengaku bahwa istrinya, ibu dari Azizah, telah pergi tanpa kabar sejak adik Azizah masih berusia 5 bulan. Hingga saat ini, ia tidak mengetahui keberadaan mantan istrinya tersebut.
"Ya hampir dua tahun kan. Nggak tahu, tahu-tahu nimbul kayak gitu. Awalnya kecil. Udah diperiksa, dulu udah lama, tapi masih nggak sebesar ini. Bukan tumor," ungkap Hermanto tentang benjolan di kepalanya.
Perjuangan Sehari-hari sebagai Pemulung
Untuk menyambung hidup, Hermanto yang sehari-hari bekerja sebagai pemulung harus keliling Kota Jogja dengan sepeda mencari botol plastik dan kardus bekas yang bisa dijual. Kondisi kesehatannya yang buruk membuat aktivitas ini semakin berat.
"Ini kan sakit ini. Ini dia kalau kena panas udah kepanasan, kan cari rosok kan setiap harinya. Kalau udah kepanasan ngentak, ngenyut. Kalau kedinginan juga ngentak, ngenyut gitu," jelas Hermanto tentang penderitaannya.
Adik Azizah, Agip, selalu menemani ayahnya berkeliling setiap hari. Sementara Azizah sendiri tak jarang ikut membantu sang ayah mencari nafkah, meski usianya masih sangat belia. Yang mengagumkan, bocah perempuan ini tak pernah mengeluh tentang keadaan keluarganya yang serba kekurangan.
Bantuan Tiba Setelah Kisahnya Viral
Setelah kisah perjuangan Azizah dan keluarganya viral, terjadi perkembangan positif. Pada Sabtu (18/4/2026), kamar kos tempat tinggal mereka di Mrican tampak sepi dan tertutup rapat. Sepeda yang biasa digunakan Hermanto untuk mencari nafkah pun tak terlihat lagi di sana.
Ketua RT 24 setempat, Yuli Riswanto, mengkonfirmasi bahwa Hermanto dan kedua anaknya sudah tidak terlihat di kediamannya sejak pagi hari. "Dari pagi itu sudah keluar sama bapaknya, cuma informasi tadi ada di Yayasan Bumi Damai," ujar Yuli.
Banyak pihak yang datang ingin menolong keluarga ini setelah mengetahui kondisinya. "Sudah dari berbagai instansi tadi ke sini semua, tapi kebetulan ndak ketemu. Dinsos ada, Dinas Pendidikan ada, Perlindungan Anak ada, dari Dewan juga ada, mahasiswa juga ada. Ya ketemunya sama saya," sambung Yuli.
Dipindahkan ke Yayasan Bumi Damai
Keluarga Azizah akhirnya dipindahkan ke Yayasan Rumah Singgah Bumi Damai, sebuah yayasan yang menaungi anak yatim piatu dan fakir miskin. Yayasan ini terletak di Kotagede, Kota Jogja, dan diketahui milik Ipda Ali Nur Suwandi atau yang akrab disapa Bon Ali, yang menjabat sebagai Kanit Provos Polsek Kotagede.
Perpindahan ini memberikan harapan baru bagi Azizah dan keluarganya untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak dan perawatan kesehatan yang lebih baik bagi Hermanto. Kisah perjuangan bocah TK ini menjadi pengingat betapa pentingnya kepedulian sosial terhadap keluarga-keluarga yang hidup dalam kesulitan ekonomi dan kesehatan.



