Sebanyak 14 Warga Negara Indonesia (WNI) yang diduga merupakan Pekerja Migran Indonesia (PMI) ilegal masih dalam pencarian oleh Otoritas Maritim Malaysia setelah kapal yang mereka tumpangi tenggelam di perairan Pulau Pangkor, Malaysia, pada Selasa (12/5).
Kronologi Kejadian
Kapal yang mengangkut 37 orang PMI diduga ilegal tersebut tenggelam pada Senin (11/5) di perairan Pulau Pangkor. Kapal pertama kali ditemukan oleh nelayan yang melintas dan segera melaporkan kejadian tersebut kepada petugas Maritim Malaysia. Berdasarkan dugaan petugas, kapal tersebut berangkat dari Indonesia melalui jalur laut dengan tujuan Pulau Pinang, Terengganu, Selangor, dan Kuala Lumpur, Malaysia.
Korban Selamat dan Hilang
Sebanyak 23 orang berhasil ditemukan oleh petugas Maritim Malaysia dalam kondisi selamat dan mengapung di tengah lautan saat kapal tenggelam. Mereka yang selamat kemudian dibawa ke Kampung Aceh di Malaysia. Sementara itu, 14 orang lainnya masih dalam proses pencarian oleh Otoritas Maritim Malaysia.
Upaya Pencarian
Pengarah Maritim Negeri Perak Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia (APMM), Kapten Maritim Mohamad Shukri Bin Khotob, menyatakan bahwa pihaknya akan terus meningkatkan operasi pencarian hingga semua korban yang masih hilang berhasil ditemukan. "Maritim Malaysia akan terus komited dalam melaksanakan operasi mencari dan menyelamat bersama agensi berkaitan bagi memastikan semua mangsa yang dipercayai terlibat dapat dikesan," ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima CNNIndonesia.com pada Selasa (12/5).
Ia juga mengimbau masyarakat, khususnya komunitas maritim, untuk segera melaporkan jika menemukan korban atau objek mencurigakan di laut. Nelayan atau siapa pun yang menemukan petunjuk mengenai korban yang hilang diminta menghubungi Pusat Operasi Maritim Negeri Perak di nomor 05-683 8737 atau 999 untuk tindakan segera.
Peristiwa ini menjadi pengingat akan bahaya perjalanan ilegal yang kerap dilakukan oleh PMI tanpa dokumen resmi. Pemerintah Indonesia dan Malaysia diharapkan terus bekerja sama dalam menangani kasus ini dan mencegah kejadian serupa di masa depan.



