PPATK Soroti Arus Pencucian Uang Global Capai USD 2 Triliun
PPATK: Pencucian Uang Global Capai USD 2 Triliun

PPATK Soroti Arus Pencucian Uang Global Capai USD 2 Triliun

Ketua Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Ivan Yustiavandana mengungkapkan bahwa nilai tindak pidana pencucian uang di seluruh dunia telah mencapai angka yang mencengangkan, yakni sekitar USD 2 triliun. Angka ini setara dengan 5% dari Produk Domestik Bruto (PDB) global, yang merepresentasikan total nilai pasar seluruh barang dan jasa akhir yang diproduksi di dunia.

Laporan Dugaan TPPU Mencapai Jutaan per Hari

Dalam Kuliah Kebangsaan tentang Optimalisasi Non-Conviction Based Asset Forfeiture untuk Penanganan Kejahatan Cyber di Kantor PPATK, Jakarta, Senin (20/4/2026), Ivan menyebutkan bahwa pada Februari 2026 saja, PPATK menerima laporan transaksi dugaan pencucian uang senilai 3,2 juta USD. Lebih lanjut, ia mencatat bahwa dari Januari hingga Februari 2026, terdapat 7.389.016 laporan yang masuk.

"Artinya PPATK menerima hampir 150.000 laporan per hari. Jadi, sekitar 18.000 laporan per jam yang masuk kepada kami," ungkap Ivan. Ia menjelaskan bahwa tingginya jumlah laporan ini menjadi indikator bahwa PPATK telah mencapai titik optimal, di mana tekanan terhadap pelaku tindak pidana sudah seimbang dengan upaya penindakan yang dilakukan.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Perubahan Pola dan Tantangan Deteksi

Ivan menilai bahwa praktik pencucian uang telah mengalami transformasi signifikan. Jika sebelumnya dilakukan secara tradisional dalam hitungan bulan hingga tahun, kini proses itu berlangsung dalam milidetik atau per detik. Perubahan ini berdampak pada skala pendeteksian yang semakin sulit, terutama karena melibatkan kecerdasan buatan (AI) daripada manusia.

"Skalanya sekarang sudah mencapai triliunan. Kapasitas deteksi kami hampir sulit diikuti, cakupan wilayahnya global, dan keterlibatan manusia hampir tidak ada karena semuanya dikendalikan AI. Kemampuan PPATK mendeteksi menjadi sangat menantang," kata Ivan.

Peran Aparat dan Tekanan terhadap Pelaku

Ivan juga menyoroti peran aparat dalam memberantas pencucian uang. Ia mengungkapkan bahwa kadang-kadang jaringan pelaku justru membesar karena mendapat perlindungan dari aparat, sehingga yang seharusnya memberantas malah terlibat dalam kejahatan.

"Pelaku lama bertambah besar. Aparat yang membina pelaku, bahkan menjadi pelaku kejahatan. Ini sesuai dengan apa yang disampaikan Presiden di Kejaksaan kemarin," tegasnya. Ivan meyakini bahwa kinerja pemerintah yang baik akan memperburuk kondisi bagi pelaku kejahatan, sebaliknya kinerja yang buruk akan menguntungkan mereka.

Ajakan untuk Kolaborasi dan Penekanan

Dalam rangkuman pidatonya, Ivan mengajak semua pihak untuk bergerak bersama dalam menekan tindakan jahat pencucian uang. Ia menekankan bahwa jika pelaku sering mendapatkan tekanan, maka pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) akan semakin efektif.

"Kalau tidak ada tekanan, wilayah yang bisa kita tangani semakin gelap, dan kerusakan yang dinikmati oleh generasi berikutnya akan semakin banyak," kata Ivan. Ia menegaskan pentingnya kolaborasi dan penguatan sistem untuk menghadapi kompleksitas kejahatan finansial ini.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga