Maduro Hadapi Sidang Kedua di AS, Tuduhan Narkoterorisme dan Senjata Menguat
Maduro Hadapi Sidang Kedua di AS, Tuduhan Narkoterorisme

Eks Presiden Venezuela Hadapi Sidang Kedua di Pengadilan Amerika Serikat

New York - Mantan pemimpin Venezuela, Nicolas Maduro (63), akan kembali menghadiri persidangan di Amerika Serikat (AS) pada Kamis (26/3). Ini merupakan kehadiran keduanya di pengadilan untuk menjalani sidang lanjutan yang membahas kasus perdagangan narkoba dan senjata ilegal.

Klaim Maduro sebagai 'Tawanan Perang' dan Argumen Hukum

Dilaporkan oleh Al-Jazeera, Kamis (26/3/2026), dalam sidang perdananya pada Januari 2026, Maduro dengan tegas menyatakan bahwa dirinya bukanlah terdakwa, melainkan seorang 'tawanan perang' dan presiden yang 'diculik'. Pernyataan ini menimbulkan banyak pertanyaan yang belum terjawab menjelang sidang kedua ini, termasuk bagaimana Maduro akan menggunakan serangkaian argumen hukum untuk menentang tuntutan tersebut, serta bukti apa yang akan disajikan oleh jaksa untuk mendukung klaim tentang 'narkoterorisme' dan perdagangan narkoba.

Sejarah Langka Penuntutan terhadap Kepala Negara

Meskipun AS memiliki catatan panjang dalam penegakan hukum terhadap warga negara asing, penuntutan terhadap kepala negara yang sedang menjabat atau mantan pemimpin sangat jarang terjadi. Contohnya termasuk penuntutan terhadap Manuel Antonio Noriega, yang memimpin Panama pada 1989, serta mantan pemimpin Honduras, Juan Orlando Hernandez pada tahun 2024. Kasus Maduro menambah daftar langka ini, menyoroti kompleksitas hukum internasional.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Penangkapan dan Tuduhan terhadap Maduro

Menurut AFP, Maduro dan istrinya, Cilia Flores, telah ditahan di penjara Brooklyn selama hampir tiga bulan setelah pasukan AS menculik mereka dari kediaman di Caracas pada awal Januari. Operasi mengejutkan ini berhasil menggulingkan pemimpin otoriter yang telah memimpin Venezuela sejak 2013. Sejak kejadian itu, negara kaya minyak tersebut dipaksa tunduk pada kehendak Presiden AS Donald Trump, menciptakan ketegangan geopolitik yang signifikan.

Maduro sendiri telah membantah semua tuduhan yang dihadapkan kepadanya. Ia mengaku tidak bersalah atas empat dakwaan, termasuk konspirasi 'narkoterorisme', konspirasi impor kokain, kepemilikan senapan mesin dan alat peledak, serta konspirasi untuk memiliki senjata tersebut. Sidang ini dijadwalkan berlangsung pukul 11.00 waktu setempat, dengan perhatian dunia tertuju pada perkembangan hukum dan politiknya.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga