Fakta Cek: Hoaks Purbaya Gagal Jadi Gubernur BI karena Tak Bayar Rp 900 Miliar
Hoaks Purbaya Gagal Gubernur BI karena Tak Bayar Rp 900 Miliar

Klaim Viral Purbaya Gagal Jadi Gubernur BI karena Tak Bayar Rp 900 Miliar Ternyata Hoaks

Di media sosial, sebuah narasi yang menyesatkan telah beredar luas, mengklaim bahwa Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pernah ditolak saat melamar posisi Gubernur Bank Indonesia. Menurut narasi tersebut, kegagalan Purbaya dalam meraih jabatan itu disebabkan karena posisi Gubernur BI dijual seharga Rp 900 miliar oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, dan Purbaya tidak sanggup membayar jumlah tersebut.

Asal Muasal Narasi yang Menyesatkan

Narasi hoaks ini dibagikan oleh beberapa akun Facebook pada bulan Februari 2026, dengan konten yang menyebarkan informasi palsu tentang proses seleksi Gubernur Bank Indonesia. Klaim tersebut dengan cepat menyebar di berbagai platform media sosial, menimbulkan kebingungan dan spekulasi di kalangan publik.

Berdasarkan penelusuran mendalam yang dilakukan oleh Tim Cek Fakta Kompas.com, narasi ini telah dikonfirmasi sebagai informasi yang tidak benar atau hoaks. Investigasi menyeluruh menunjukkan tidak ada bukti yang mendukung klaim bahwa jabatan Gubernur BI pernah diperjualbelikan dengan harga Rp 900 miliar, apalagi melibatkan DPR dalam transaksi semacam itu.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Proses Seleksi Gubernur BI yang Transparan

Gubernur Bank Indonesia dipilih melalui proses yang ketat dan transparan, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Proses ini melibatkan pertimbangan profesional, integritas, dan kompetensi, bukan berdasarkan kemampuan finansial atau pembayaran tertentu. Oleh karena itu, narasi yang menyebutkan penjualan jabatan dengan harga fantastis tersebut sama sekali tidak memiliki dasar fakta.

Penting untuk selalu memverifikasi informasi sebelum mempercayai atau membagikannya di media sosial, guna mencegah penyebaran berita palsu yang dapat merusak reputasi individu dan institusi. Tim Cek Fakta Kompas.com terus berkomitmen untuk meluruskan informasi yang menyesatkan dan memberikan klarifikasi berdasarkan fakta yang akurat.

Dalam kasus ini, masyarakat diimbau untuk tidak terpengaruh oleh narasi hoaks yang beredar dan selalu mengandalkan sumber berita terpercaya untuk mendapatkan informasi yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga