Ipda Subhan, Polisi yang Menginisiasi Komunitas Pejuang Darah di Sekadau
Ipda Subhan Syah Khan, seorang anggota polisi di Sekadau, Kalimantan Barat, telah menggagas pembentukan Komunitas Pejuang Darah untuk membantu pasien yang membutuhkan transfusi darah. Atas dedikasinya ini, beberapa warga setempat mengusulkan namanya untuk penghargaan Hoegeng Awards 2026.
Dari Keprihatinan Menjadi Aksi Nyata
Komunitas ini berawal dari keprihatinan Ipda Subhan saat masih menjabat sebagai Bhabinkamtimbas di Desa Sungai Ringin dan Desa Selalong, Kabupaten Sekadau. Dia tergerak setelah menyaksikan seorang warga binaannya meninggal dunia karena tidak mendapatkan transfusi darah golongan AB yang dibutuhkan.
"Pernah ada warga binaan saya datang untuk meminta darah golongan AB, dia jalan ke mana-mana nyari. Kemudian satu minggu dia datang lagi dan minta tolong kepada saya mencarikan darah AB ini, saya ke warga-warga kan, belum ada dia dapat. Minggu depannya saya dengar meninggal dunia pasien ini karena ndak dapat transfusi darah," kisah Ipda Subhan.
Berduka atas kejadian tersebut, Ipda Subhan bertekad mencegah terulangnya tragedi serupa. Dia pun mengajak teman-temannya untuk mendonorkan darah, yang kemudian berkembang menjadi komunitas resmi pada 10 November 2019.
Dukungan Warga dan Peran Komunitas
Deni Tri Saputra, salah satu warga yang bergabung dengan Komunitas Pejuang Darah sejak empat tahun lalu, mengungkapkan betapa pentingnya keberadaan komunitas ini. "Dengan adanya donor darah ini sangat membantu warga Sekadau, bahkan bukan hanya dari Sekadau, kemarin dari Sintang ke sini mereka cari darahnya, ada yang dari Melawi, di luar kabupaten juga ada yang cari darah ke sini," ujar Deni.
Asyer, pengurus komunitas, menjelaskan bahwa Ipda Subhan tidak hanya sebagai pencetus, tetapi juga aktif mendanai kegiatan donor darah massal menggunakan dana pribadinya. Komunitas ini bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sekadau dan rumah sakit setempat, dengan prinsip layanan gratis tanpa memungut biaya dari pasien.
"Kami tekankan bahwa apa yang kami lakukan dari Komunitas Pejuang Darah itu semua free, gratis, Puji Tuhan, tidak sepeser pun kami pernah pungut biaya dari pasien untuk Pejuang Darah. Kami komitmen bahwa kita menolong orang," tegas Asyer.
Tantangan dan Upaya Berkelanjutan
Meski telah terbentuk, komunitas ini menghadapi tantangan seperti tingginya permintaan darah dan keterbatasan relawan pendonor. Ipda Subhan mengakui bahwa dengan anggota sekitar 100 orang, mereka sering keteteran memenuhi kebutuhan harian. "Kebutuhan darah setiap hari ada, namun relawan pendonor kurang," katanya.
Untuk mengatasi hal ini, Komunitas Pejuang Darah rutin mengadakan donor darah massal minimal empat kali dalam setahun, dengan biaya yang ditanggung dari dana pribadi Ipda Subhan, donatur, dan bantuan perusahaan. Irpandi, Ketua PMI Kabupaten Sekadau, mengapresiasi peran komunitas ini. "Kami rasa dengan adanya organisasi Pejuang Darah sangat membantu dalam upaya memenuhi kebutuhan darah masyarakat Kabupaten Sekadau," ujarnya.
Dampak Positif bagi Masyarakat
Sebelum adanya komunitas ini, warga sering kesulitan mencari stok darah dan harus menghubungi bank darah di kabupaten tetangga. Kini, mereka dapat langsung menghubungi Komunitas Pejuang Darah untuk mendapatkan pendonor, yang juga membantu mengurangi biaya bagi pasien BPJS.
Selain aktivitas donor darah, Ipda Subhan juga pernah berperan sebagai guru bantu di SDN 21 Desa Sungai Ringin, mengajar pendidikan Pancasila sekali seminggu. Dedikasinya dalam berbagai bidang sosial ini membuatnya layak diusulkan untuk Hoegeng Awards 2026, sebagai bentuk pengakuan atas kontribusinya kepada masyarakat Sekadau.



