TRAGEDI kekerasan terhadap anak di daycare Little Aresha di Yogyakarta memicu kemarahan publik sekaligus kegelisahan banyak orang tua. Namun, di tengah kekhawatiran terhadap keamanan ruang pengasuhan di luar rumah, perbincangan di media sosial justru memperlihatkan sesuatu yang lain, yaitu bagaimana ibu kembali ditempatkan sebagai pusat penilaian.
Di tengah simpati terhadap korban, tidak sedikit komentar yang mempertanyakan pilihan orang tua, terutama ibu, yang menitipkan anaknya. Pada saat yang sama, muncul pula suara yang membela dan berempati. Sekilas, respons ini tampak berseberangan. Namun, keduanya berangkat dari asumsi yang sama bahwa ibu adalah pihak utama yang bertanggung jawab atas keselamatan anak.
Fenomena ini menunjukkan bahwa meskipun zaman telah berubah, beban pengasuhan masih sering dibebankan secara tidak proporsional kepada ibu. Diskusi yang seharusnya berfokus pada pencegahan kekerasan dan peningkatan standar keamanan daycare justru bergeser menjadi penilaian terhadap peran ibu. Hal ini menimbulkan kegelisahan baru di kalangan orang tua, terutama ibu bekerja, yang merasa terpojokkan oleh opini publik.
Para ahli menekankan bahwa tanggung jawab pengasuhan anak adalah tugas bersama antara ayah, ibu, dan lembaga pengasuhan yang terpercaya. Masyarakat perlu mengubah pola pikir agar tidak lagi menyalahkan ibu, melainkan mendorong perbaikan sistem pengawasan dan regulasi daycare. Dengan demikian, tragedi serupa dapat dicegah di masa depan tanpa menambah beban psikologis bagi orang tua.



