Siswa 14 Tahun Tewaskan 9 Orang dalam Penembakan Sekolah di Turki, Terinspirasi Pelaku AS
Seorang siswa berusia 14 tahun melakukan aksi penembakan massal di sebuah sekolah di Turki, yang menewaskan sembilan orang dan melukai belasan lainnya. Insiden ini terjadi di Provinsi Kahramanmaras pada Rabu (15/4/2026), dan mengejutkan karena penembakan di sekolah tergolong jarang di negara tersebut.
Kaitan dengan Penembakan Massal di Amerika Serikat
Polisi Turki menemukan bahwa pelaku memasang foto Elliot Rodger, pelaku penembakan massal di Amerika Serikat pada tahun 2014, sebagai foto profil di WhatsApp miliknya. Elliot Rodger dikenal karena menewaskan enam mahasiswa di dekat Santa Barbara, California, dan kasusnya sering menginspirasi penembakan lain di sekolah.
Temuan awal departemen kepolisian Turki menunjukkan tidak ada hubungan dengan terorisme, dan insiden ini diyakini sebagai serangan individu. Namun, belum jelas apakah motivasi pelaku remaja ini sama dengan Elliot Rodger, yang sempat mengungkapkan frustasi tentang hubungan dengan perempuan.
Kronologi dan Dampak Penembakan
Pelaku, yang membawa lima pucuk senjata api, melepaskan tembakan di sekolah tersebut, memicu kekacauan besar. Para siswa terpaksa melompat keluar jendela untuk menyelamatkan diri dari ancaman senjata. Setelah melakukan serangan mematikan, pelaku dilaporkan tewas karena menembak dirinya sendiri.
Menteri Dalam Negeri Turki, Mustafa Ciftci, mengonfirmasi bahwa sembilan orang tewas dalam insiden ini, dengan 13 orang lainnya mengalami luka-luka. Enam korban luka berada dalam perawatan intensif di rumah sakit, dan tiga di antaranya dalam kondisi kritis.
Insiden Kedua dalam Dua Hari
Penembakan massal di Kahramanmaras ini merupakan insiden kedua di Turki dalam dua hari terakhir, menambah kekhawatiran akan keamanan di lingkungan pendidikan. Seperti dilaporkan AFP, kejadian ini cukup mengejutkan mengingat jarangnya kasus penembakan di sekolah di Turki.
Polisi terus menyelidiki latar belakang dan motif pelaku, sementara masyarakat berduka atas korban jiwa yang berjatuhan. Insiden ini menyoroti pentingnya pencegahan kekerasan di sekolah dan pengaruh konten negatif dari luar negeri.



