Kepala Desa di Lumajang Dikeroyok Massa Gegara Ucapan di Acara Pengajian
Insiden kekerasan menimpa seorang kepala desa di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Sampurno, yang menjabat sebagai Kepala Desa Pakel di Kecamatan Gucialit, menjadi korban pengeroyokan oleh sepuluh orang. Kejadian ini berawal dari sebuah acara pengajian yang dihadiri oleh Sampurno, di mana ucapan-ucapannya dianggap menyinggung perasaan beberapa jemaah.
Ucapan di Pengajian Picu Ketegangan
Peristiwa bermula pada Selasa, 14 April 2026, ketika Sampurno menghadiri pengajian di Kecamatan Ranuyoso. Di atas panggung, ia disebut-sebut mengeluarkan pernyataan dengan nada tinggi dan kalimat yang dirasa menghina oleh sejumlah orang yang hadir. "Pelaku kemudian saksi dan korban sendiri mengikuti acara pengajian di Kecamatan Ranuyoso. Pada saat itu pak kepala desa (Sampurno) diperhatikan diamati oleh beberapa jemaah itu mengeluarkan suara dengan intonasi yang agak keras mungkin kalimat-kalimat yang dirasa menyinggung perasaan beberapa orang," jelas Kapolres Lumajang, AKBP Alexx Sandy Siregar, seperti dilansir dari sumber berita.
Setelah pengajian, para pelaku mencoba meminta klarifikasi atas ucapan Sampurno. Namun, alih-alih memberikan penjelasan yang menenangkan, kepala desa tersebut justru merespons dengan sikap kasar. Hal ini semakin memicu kemarahan kelompok tersebut.
Pengeroyokan di Kediaman Kepala Desa
Tak lama kemudian, para pelaku mendatangi rumah Sampurno menggunakan dua unit mobil. Di kediamannya, terjadi pengeroyokan terhadap kepala desa itu. "Memang menimbulkan rasa tidak nyaman dari para pelaku ini atas sikap yang dilakukan tanpa disadari Pak kepala desa sehingga terjadilah pengeroyokan dengan menggunakan beberapa alat," tambah Alex. Rekaman CCTV menunjukkan momen saat Sampurno dikeroyok di rumahnya, dengan ia dilingkari merah dalam video yang beredar.
Polisi Tangkap 10 Pelaku dan Lanjutkan Penyidikan
Kepolisian Resor Lumajang telah bertindak cepat dengan mengamankan kesepuluh orang yang terlibat dalam pengeroyokan ini. Mereka ditangkap di berbagai lokasi berbeda, sementara beberapa lainnya memilih menyerahkan diri secara sukarela kepada pihak berwajib. Kasus ini masih dalam tahap penyelidikan mendalam oleh kepolisian.
Selain itu, polisi juga mendalami keterlibatan seorang warga bernama Dani, yang sempat disebut oleh korban meskipun tidak berada di tempat kejadian perkara. Investigasi ini dilakukan untuk memastikan tidak ada pihak lain yang terlibat atau memicu insiden tersebut.
Insiden ini menyoroti pentingnya menjaga etika dalam berkomunikasi, terutama di forum publik seperti pengajian, untuk menghindari konflik yang dapat berujung pada kekerasan. Masyarakat diharapkan dapat menyelesaikan masalah dengan cara yang lebih damai dan sesuai hukum.



