Gadis Lampung Nyamar Jadi Pria Demi Nikahi Kekasih Wanita di Sinjai, Gagal Bayar Mahar Rp 250 Juta
Gadis Lampung Nyamar Pria Demi Nikahi Kekasih Wanita di Sinjai

Gadis Lampung Nyamar Jadi Pria Demi Nikahi Kekasih Wanita di Sinjai, Gagal Bayar Mahar Rp 250 Juta

Sebuah kasus unik dan mengejutkan terjadi di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan (Sulsel), di mana seorang gadis asal Lampung bernama Santi (19) nekat menyamar sebagai pria demi menikahi kekasihnya sesama wanita, Alda (15). Penyamaran Santi akhirnya terbongkar setelah ia tidak sanggup memenuhi permintaan uang panai atau mahar sebesar Rp 250 juta dari keluarga pacarnya.

Awal Mula Perkenalan Lewat Media Sosial

Perkara ini bermula pada Maret 2026, ketika Santi berkenalan dengan Alda melalui aplikasi pertemanan di media sosial. Santi, yang berasal dari Lampung, memperkenalkan diri sebagai pria dengan menggunakan nama samaran Mulang. "Itu (Santi) warga Lampung, kenalan lewat media sosial," jelas Kepala Desa Biji Nangka, Abdul Rauf, seperti dilansir detikSulsel pada Sabtu (11/4/2026).

Komunikasi antara Santi dan Alda semakin intens dari waktu ke waktu, hingga akhirnya keduanya memutuskan untuk berpacaran secara jarak jauh. Belakangan, Santi menyampaikan niatnya untuk menikah, dan pacarnya tersebut pun memberikan alamat rumahnya yang berada di Sinjai.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Kedatangan ke Sinjai dan Permintaan Mahar yang Besar

Santi kemudian tiba di kediaman pacarnya di Desa Biji Nangka, Kecamatan Sinjai Borong, Kabupaten Sinjai, pada Rabu (8/4) malam. Ia datang bersama temannya, Sintia (15), yang juga menyamar sebagai pria dengan nama samaran Rifki. Saat itu, nenek Alda langsung meminta uang panai atau mahar sebesar Rp 250 juta kepada Santi.

"Pas datang diminta ki sama neneknya uang panai Rp 250 juta, keduanya tidak sanggupi, makanya batal," ungkap Abdul Rauf. Karena tidak sanggup memenuhi permintaan mahar yang sangat besar tersebut, rencana pernikahan pun akhirnya gagal total.

Pelaporan ke Pihak Berwajib dan Kaburnya Kedua Remaja

Setelah rencana menikah batal, Santi dan temannya memutuskan untuk pergi ke kampung lain. Nenek Alda kemudian melaporkan kunjungan kedua remaja wanita itu kepada kepala dusun setempat pada Jumat (10/4) pagi. Kasus ini pun menjadi perhatian publik dan menimbulkan berbagai reaksi dari masyarakat setempat.

Insiden ini mengingatkan pada pentingnya komunikasi yang jujur dalam hubungan, serta tantangan yang dihadapi oleh pasangan sesama jenis dalam masyarakat yang masih kental dengan norma-norma tradisional. Meskipun demikian, upaya Santi untuk menyamar sebagai pria demi menikahi kekasihnya menunjukkan betapa kuatnya keinginan mereka untuk bersatu, meski harus menghadapi berbagai rintangan sosial dan finansial.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga