Shofiah (32), anak ketiga dari Nuryati (63), masih duduk mengingat ulang kejadian kecelakaan maut kereta di Stasiun Bekasi Timur. Ia berangkat pukul 19.00 malam mendampingi ibunya menuju Cikarang. Kereta berangkat sekitar pukul 20.00 WIB membawanya dan sang ibu menuju rumah keluarga. Di dalam gerbong, mereka duduk seperti biasa, tanpa tanda apa pun. Sekitar pukul 21.00 WIB, lampu di dalam gerbong tiba-tiba padam.
Gerbong Gelap dan Hentakan Keras
Dalam gelap, Shofiah merasakan hentakan keras ketika kereta yang ditumpanginya berhenti mendadak lalu terguncang. "Kayak tertampar," kata Shofiah saat ditemui, Selasa (28/4/2026). Kepanikan pecah seketika. Pintu tertutup. Orang-orang berdesakkan, tak tahu harus keluar lewat mana. Di tengah gelap, seseorang membuka jendela. Shofiah tak menunggu lama. Ia mengangkat anaknya, mendorong keluar lewat celah itu. "Anak saya dari situ keluarnya," ujarnya. Ia masih tertinggal bersama ibunya di dalam. Pintu akhirnya dibuka petugas. Shofiah kembali menarik Nuryati keluar dari gerbong yang sesak. Di luar, napas ibunya mulai tak teratur. "Mungkin dia syok," kata Shofiah.
Bertahan di Saat Terakhir
Nuryati masih sempat merespons, masih bisa diajak bicara, sebelum tubuhnya tiba-tiba jatuh dan tak lagi sadar. Shofiah menunggu di tengah kepanikan yang belum reda. Banyak orang berlarian ke arah titik tabrakan lain. Ia memilih bertahan, mendampingi ibunya, sambil meminta bantuan kepada petugas yang ada di lokasi. Pukul 21.30 WIB, ambulans datang satu per satu. Korban dibawa ke lantai dua, lalu dirujuk ke RSUD Bekasi. Shofiah ikut bersama ibunya. Ia hanya ingin memastikan kondisi terakhir. "Enggak lama dinyatakan tidak ada," ujarnya. Peristiwa itu berlangsung cepat. Menurut Shofiah, ia dan ibunya hanya terjebak di dalam gerbong beberapa menit saja. "Alhamdulillah cepat respons," ujarnya tentang bantuan yang datang, meski situasi saat itu dipenuhi korban.
Sang Ibu Meninggal
Nuryati memiliki riwayat sakit jantung. Bagi Shofiah, kemungkinan itu tak lepas dari kondisi ibunya setelah benturan dan kepanikan di dalam gerbong. Ia hanya mencoba menenangkan, menyuruh ibunya bersabar sebelum semuanya berubah. Kini, yang tersisa adalah ingatan yang terus berulang. Untuk sementara, ia memilih tidak kembali naik kereta. "Masih terngiang-ngiang, trauma," ujar dia. Di luar insiden itu, ada rencana keluarga yang tertunda oleh duka. Anak keenam Nuryati seharusnya menikah pada 6 Juni, tak lama setelah Idul Adha. Kabar kecelakaan membuatnya terpukul. Hingga kini, keluarga masih mencoba bangkit dari peristiwa itu. Shofiah tak banyak menuntut. Ia hanya berharap peristiwa serupa tak terulang. "Ditingkatkan aja," katanya.



