Kesaksian WNI Saat Gempa M 7,7 Guncang Jepang: Goncangan Lama hingga Kepala Puyeng
Kesaksian WNI Saat Gempa M 7,7 Guncang Jepang

Kesaksian WNI Saat Gempa M 7,7 Guncang Jepang: Goncangan Lama hingga Kepala Puyeng

Gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo mengguncang kawasan lepas pantai Timur Laut Jepang pada 20 April 2026, memicu peringatan tsunami dan evakuasi massal. Pemerintah Jepang telah menurunkan status peringatan tsunami di pesisir Timur Laut menjadi imbauan (advisory), namun aplikasi peringatan darurat NERV menegaskan warga tetap disarankan untuk tidak kembali ke pesisir dan menghindari perairan besar hingga imbauan resmi dicabut.

Peringatan Tsunami dan Evakuasi Massal

Pemerintah Jepang mengeluarkan perintah evakuasi setelah peringatan tsunami awal, dengan sekitar 156.000 orang di lima prefektur diminta meninggalkan rumah mereka. Menurut Badan Meteorologi Jepang, terdapat tiga tingkatan peringatan tsunami:

  • Tsunami Advisory: tingkat paling rendah, dikeluarkan untuk gelombang di bawah 1 meter. Warga diminta segera keluar dari laut dan meninggalkan kawasan pesisir.
  • Tsunami Warning: tingkat kedua tertinggi, dikeluarkan bila diperkirakan gelombang mencapai hingga 3 meter. Warga di wilayah ini harus segera mengungsi dari pesisir dan tepi sungai menuju tempat lebih tinggi atau bangunan evakuasi.
  • Major Tsunami Warning: tingkat tertinggi, dikeluarkan bila diperkirakan gelombang lebih dari 3 meter akan menghantam berulang kali.

Meski status peringatan telah diturunkan, otoritas menekankan bahwa kewaspadaan tetap diperlukan karena gelombang kecil sekalipun bisa berbahaya. Gelombang pertama setinggi 40cm tercatat di Pelabuhan Miyako, Prefektur Iwate, dengan proyeksi gelombang tsunami bisa mencapai hingga tiga meter di pesisir Pasifik Hokkaido dan Iwate.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Revisi Kekuatan Gempa dan Kedalaman

Otoritas Jepang merevisi kekuatan gempa yang sebelumnya diumumkan berkekuatan 7,5 magnitudo menjadi 7,7 magnitudo. Selain itu, kedalaman gempa juga diperbarui dari 10km menjadi sekitar 19km. Revisi ini dilakukan setelah analisis lebih lanjut oleh Badan Meteorologi Jepang terkait gempa besar yang mengguncang pesisir Timur Laut negara tersebut.

Pengalaman WNI di Tokyo: Goncangan Lama dan Kepala Puyeng

Sofya Suidasari (40), WNI yang telah tinggal di Jepang selama 20 tahun, berada di kantornya di distrik Minato, Tokyo, saat gempa terjadi sekitar pukul 16.52 waktu setempat. "Mungkin karena kantorku ada di lantai sembilan, jadi goncangannya terasa banget. Lampu gantung di kantor itu sampai gerak mungkin 35 derajat kali," ujar Sofya.

Dia menambahkan, "Goncangannya juga lama. Lewat semenit atau malah hampir dua menit sampai benar-benar hilang. Aku sampai puyeng." Sekitar lima orang rekannya bersiap memakai helm pelindung karena getaran gempa yang besar, sesuai protokol keselamatan di kantor Jepang yang mewajibkan helm bencana di bawah kursi.

Usai gempa mereda, Sofya dan rekan-rekannya segera meninggalkan kantor. Situasi di luar sangat ramai karena semua orang berlomba mengejar kereta untuk bisa kembali ke rumahnya. Dia harus menjemput anaknya di tempat penitipan anak, mengingat formulir bencana di Jepang mengharuskan orang tua menetapkan siapa yang akan menjemput anak saat terjadi bencana.

Sistem Peringatan Dini dan Respons Pemerintah

Sofya menuturkan bahwa sistem peringatan dini gempa di Jepang dapat langsung terdeteksi di setiap ponsel warga. "Jadi, kalau gelombang gempanya mau sampai di tempat kita, sekitar 3-5 detik itu ada alarm yang akan bunyi di ponsel kita cukup keras. Bahkan pas tidur saja bisa terbangun karena sengaja dibuat enggak nyaman bunyinya," jelasnya.

Dia juga menunjukkan tayangan televisi di rumahnya yang menggambarkan pejabat dari Japan Meteorological Agency (JMA) tengah menjelaskan langkah-langkah preventif dan upaya evakuasi bagi semua warga. Tayangan tersebut terus diulang-ulang dengan informasi terkini, termasuk status peringatan tsunami yang belum dicabut.

Pengalaman Wisatawan Asing di Hakodate

David Park (31), warga Kota Leeds, UK, bersama teman-temannya berada di Hakodate saat gempa mengguncang Jepang. "Saat kami duduk di lobi, tiba-tiba terdengar gemuruh. Tak lama kemudian, bangunan mulai bergoyang dan ponsel semua orang berbunyi alarm darurat gempa. Sekitar 30 detik kemudian, muncul peringatan tsunami," ujarnya.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

David mengatakan guncangan berlangsung sekitar 20 hingga 30 detik. "Rasanya benar-benar aneh melihat lantai dan dinding bergerak, serta lampu dan tanaman bergoyang." Setelah itu, mereka menuju bandara dan menemukan banyak toko tutup serta kemacetan lalu lintas, dengan sirene peringatan tsunami berbunyi di berbagai tempat.

Dampak pada Transportasi dan Fasilitas Nuklir

Sejumlah layanan kereta cepat Shinkansen di wilayah Timur Laut Jepang ditangguhkan akibat gempa, termasuk Tohoku Shinkansen, Yamagata Shinkansen, dan Akita Shinkansen. Situs berita Kyodo melaporkan bahwa sejauh ini tidak ditemukan adanya kerusakan di pembangkit listrik tenaga nuklir yang berada di Prefektur Aomori dan Miyagi, termasuk Fukushima Daini.

Konteks Sejarah dan Statistik Gempa di Jepang

Secara statistik, Jepang mengalami gempa dengan kekuatan magnitudo 7 (atau lebih) setiap 16 bulan sekali, atau nyaris setahun sekali. Gempa besar terbaru terjadi pada Desember 2025 dengan kekuatan 7,6 magnitudo di lepas pantai Prefektur Aomori. Peristiwa paling mematikan dalam sejarah modern adalah gempa Tohoku pada 2011 berkekuatan 9,0 magnitudo yang memicu tsunami, menewaskan lebih dari 18.000 orang.

Sejak 2011, edukasi publik mengenai bahaya tsunami semakin digencarkan, termasuk penjelasan bahwa gelombang setinggi 30cm saja dapat mengancam jiwa. Pemerintah Jepang terus menekankan kewaspadaan penuh, mengingat potensi gelombang susulan dapat menimbulkan dampak serius bagi masyarakat di kawasan pesisir.