Musim panas di Belahan Bumi Utara baru dimulai, namun gelombang panas ekstrem sudah melanda Eropa dan Amerika Serikat (AS). Dalam beberapa pekan terakhir, Eropa mengalami dua gelombang panas mematikan yang memecahkan rekor suhu sebelumnya. Gelombang panas berikutnya diperkirakan akan kembali melanda pekan depan.
Eropa Dilanda Dua Gelombang Panas Mematikan
Eropa mencatat rekor suhu tertinggi sepanjang sejarah dalam dua gelombang panas berturut-turut. Negara-negara seperti Prancis, Jerman, dan Inggris mengalami suhu di atas 40 derajat Celsius, menyebabkan kebakaran hutan dan kematian akibat sengatan panas. Para ahli meteorologi memperingatkan bahwa gelombang panas ketiga diprediksi datang pekan depan, memperparah kondisi yang sudah kritis.
AS Hadapi Suhu dan Kelembapan Ekstrem
Sementara itu, Amerika Serikat menghadapi kondisi serupa. Wilayah timur AS, termasuk kota-kota besar seperti New York dan Washington DC, dilanda suhu tinggi yang disertai kelembapan ekstrem. Kombinasi ini membuat suhu terasa lebih panas dari angka sebenarnya, meningkatkan risiko gangguan kesehatan seperti dehidrasi dan heatstroke.
Kubah Panas dan Pemanasan Global Jadi Pemicu
Para ahli menjelaskan bahwa fenomena ini dipicu oleh kubah panas, yaitu area tekanan tinggi yang memerangkap udara panas di suatu wilayah dalam waktu lama. Kubah panas ini membuat suhu terus meningkat tanpa sirkulasi udara yang memadai. Kondisi tersebut dinilai semakin parah akibat pemanasan global, yang meningkatkan frekuensi dan intensitas gelombang panas di seluruh dunia.
Menurut data dari Badan Meteorologi Dunia, suhu rata-rata global telah meningkat 1,1 derajat Celsius sejak era pra-industri. Hal ini membuat peristiwa cuaca ekstrem seperti gelombang panas menjadi lebih sering terjadi. Para ilmuwan mendesak pemerintah untuk segera mengambil tindakan mitigasi perubahan iklim guna mengurangi dampak buruk di masa depan.



