Ratusan Fasilitas Medis Iran Hancur, Picu Krisis Kesehatan yang Parah
Fasilitas Medis Iran Hancur, Krisis Kesehatan Meluas

Ratusan Fasilitas Medis Iran Hancur, Picu Krisis Kesehatan yang Parah

Serangan udara berkepanjangan terhadap target militer dan sipil di Iran semakin menekan sistem layanan kesehatan negara itu yang sudah rapuh, menurut berbagai laporan terkini. Pejabat Iran mengklaim bahwa banyak pabrik farmasi dan fasilitas medis telah terkena dampak sejak Amerika Serikat dan Israel meluncurkan kampanye pengeboman mereka pada akhir Februari.

Konfirmasi Kerusakan dari WHO dan Pakar Hukum

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru-baru ini mengonfirmasi bahwa fasilitas Tofigh Daru, yang digunakan untuk memproduksi obat pengobatan kanker, termasuk yang rusak akibat serangan. Menurut kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, bom juga merusak Institut Pasteur Iran, sebuah rumah sakit psikiatri, dan rumah sakit lain di luar Teheran. Organisasi tersebut telah memverifikasi lebih dari 20 serangan terhadap sistem layanan kesehatan Iran dengan setidaknya sembilan kematian.

Secara terpisah, lebih dari 100 pakar hukum internasional berbasis di AS, termasuk profesor dari Harvard, Yale, dan Stanford, mengecam serangan udara yang "menghantam sekolah, fasilitas kesehatan, dan rumah-rumah." Mereka mengutip laporan dari Bulan Sabit Merah Iran, yang menyebutkan bahwa 236 pusat kesehatan telah dibom dalam tiga minggu pertama perang.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Dalam surat mereka, para pakar menyebut serangan AS dan Israel terhadap Iran sebagai "pelanggaran yang jelas terhadap Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa" dan mengatakan tindakan itu menimbulkan kekhawatiran serius mengenai pelanggaran hukum humaniter internasional, termasuk kemungkinan kejahatan perang.

Dampak Langsung pada Pasien Kanker dan Sistem Kesehatan

Setelah pengeboman Tofigh Daru pekan lalu, Wakil Menteri Kesehatan Iran Mehdi Pirsalehi mengatakan fasilitas tersebut terkena "serangan rudal langsung." Pabrik itu merupakan salah satu produsen utama bahan aktif untuk obat rumah sakit dan obat bedah, dengan serangan tersebut sepenuhnya menghancurkan jalur produksi serta departemen penelitian dan pengembangan.

Israel mengonfirmasi serangan tersebut, tetapi mengatakan bahwa Tofigh Daru menggunakan statusnya sebagai perusahaan sipil sebagai "kedok" sambil secara sistematis memasok bahan kimia kepada rezim Iran. Militer Israel mengatakan bahan kimia itu termasuk fentanil, anestesi yang sangat adiktif dan berbahaya.

Menurut Dr. Hassan Nayeb-Hashem, yang kini berbasis di Wina, Tofigh Daru memproduksi berbagai obat penting dan bertanggung jawab atas sebagian besar produksi negara. "Sangat sulit memperoleh jumlah sebesar itu dari luar negeri dalam situasi saat ini," katanya, memperingatkan bahwa keterlambatan rantai pasokan dapat berdampak langsung, terutama pada pasien yang sedang menjalani terapi.

Obat kanker merupakan salah satu terapi paling mahal di Iran, dengan biaya setara satu hingga dua bulan gaji. Perusahaan asuransi kesehatan sering menolak membayar obat impor, sehingga banyak pasien hanya memiliki akses terbatas terhadap obat tersebut.

Krisis Dokter dan Kondisi Darurat yang Memprihatinkan

Hamid Hemmatpour, aktivis kelahiran Iran yang berbasis di Wina, memperingatkan bahwa kehancuran industri farmasi Iran bisa menjadi "pukulan mematikan" bagi sistem kesehatan negara itu. "Dalam masa perang, hampir mustahil mengimpor obat dari negara seperti India," katanya.

Ia mencontohkan seorang pasien kanker di Teheran yang mencoba mendapatkan obat melalui yayasan amal Mahak. "Mereka mengatakan bahwa bahkan obat penghilang rasa sakit sederhana atau obat anti-pusing untuk pasien kemoterapi sudah tidak tersedia lagi. Kondisi daruratnya sangat parah," ujarnya.

Hemmatpour juga menyoroti krisis lain: kekurangan dokter. "Selain kerusakan fisik, banyak dokter dan ahli bedah berpengalaman tidak lagi tersedia atau tidak dapat kembali ke Iran karena alasan keamanan," katanya. Pada awal perang, banyak dokter yang memiliki kewarganegaraan ganda meninggalkan Iran melalui perbatasan dengan Armenia atau Turki.

Akibatnya, dokter yang tersisa mengalami beban kerja sangat berat. Di beberapa wilayah Teheran, satu dokter harus menangani 200 hingga 300 pasien setiap hari, sementara situasinya bahkan jauh lebih buruk di luar ibu kota. Sebagian besar spesialis berada di kota besar seperti Teheran, Mashhad, Shiraz, atau Isfahan, sementara kota lain sangat kekurangan tenaga medis.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Peringatan Jangka Panjang dan Potensi Kejahatan Perang

Baik Nayeb-Hashem maupun Hemmatpour mengatakan bahwa penghancuran fasilitas medis dan farmasi secara sengaja dapat dianggap sebagai kejahatan perang menurut Konvensi Jenewa dan aturan WHO. Perlindungan khusus ini hanya bisa dicabut jika fasilitas tersebut terbukti digunakan untuk tujuan militer.

Dokter senior dan aktivis Nayeb-Hashem memperingatkan bahwa dampak perang kemungkinan akan berlangsung lama. "Tragedi yang sebenarnya adalah, bahkan jika perang berakhir hari ini, pemerintah Iran kemungkinan besar akan membangun kembali fasilitas militer terlebih dahulu, bukan layanan kesehatan dan keselamatan rakyatnya," tandasnya.