Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia melaporkan adanya 23 kasus infeksi hantavirus jenis Seoul Virus yang tersebar di sejumlah wilayah tanah air selama periode 2024 hingga 2026. Dari jumlah tersebut, tiga pasien dilaporkan meninggal dunia, sementara 20 lainnya berhasil pulih dan dinyatakan sembuh. Angka kematian atau case fatality rate (CFR) untuk infeksi hantavirus di Indonesia mencapai 13 persen.
Peningkatan Kasus pada 2025
Tren kasus menunjukkan lonjakan signifikan terjadi pada tahun 2025, dengan total 17 kasus terkonfirmasi. Sementara itu, pada tahun 2024 hanya tercatat satu kasus, dan pada tahun 2026 hingga saat ini terdapat lima kasus. Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menegaskan bahwa lima kasus yang terdeteksi pada tahun ini tidak berkaitan dengan wabah hantavirus yang terjadi di kapal pesiar MV Hondius.
Detail Kasus dan Penanganan
Kemenkes terus melakukan pemantauan dan penanganan terhadap kasus-kasus yang muncul. Upaya edukasi kepada masyarakat mengenai pencegahan penularan hantavirus juga terus digencarkan. Hantavirus diketahui dapat menular melalui kontak dengan urine, feses, atau air liur hewan pengerat yang terinfeksi, terutama tikus. Gejala awal infeksi meliputi demam, nyeri otot, dan gangguan pernapasan.
Masyarakat diimbau untuk menjaga kebersihan lingkungan, menghindari kontak dengan tikus, dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala yang mencurigakan. Kemenkes juga memastikan bahwa sistem surveilans dan respons cepat terhadap penyakit menular terus diperkuat untuk mencegah penyebaran lebih luas.



