Fenomena Sound Horeg dan Risiko Kesehatannya
Fenomena pertunjukan sound horeg, yaitu karnaval musik dengan pengeras suara berkekuatan ekstrem, kini tengah tren di media sosial. Meskipun menjadi hiburan masyarakat, paparan suara dengan intensitas sangat tinggi dari parade ini berisiko memicu kerusakan telinga secara instan dan menyebabkan gangguan pendengaran permanen hanya dalam hitungan detik.
Peringatan dari Pakar THT
Pakar Telinga, Hidung, dan Tenggorok (THT) Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dr. Indra Setiawan, mengungkapkan bahwa tingkat kebisingan pada sound horeg telah jauh melampaui ambang batas aman yang direkomendasikan secara medis. Berdasarkan standar Kementerian Kesehatan dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), paparan suara hingga 85 desibel masih tergolong aman apabila didengar selama delapan jam per hari.
Dampak Paparan Suara Ekstrem
Sound horeg seringkali menghasilkan suara di atas 120 desibel, yang dalam hitungan detik sudah bisa menyebabkan kerusakan permanen pada sel-sel rambut di koklea. Dr. Indra menjelaskan, "Paparan suara di atas 120 desibel dapat menyebabkan trauma akustik akut yang mengakibatkan gangguan pendengaran sensorineural permanen. Kerusakan ini tidak bisa diperbaiki karena sel rambut tidak dapat beregenerasi."
Upaya Pencegahan dan Kesadaran Masyarakat
Masyarakat diimbau untuk menjaga jarak aman dari sumber suara, menggunakan pelindung telinga seperti earplug, dan membatasi durasi paparan. Pemerintah daerah juga diharapkan dapat mengatur tingkat kebisingan pada acara-acara publik untuk melindungi kesehatan pendengaran warga. Kesadaran akan bahaya sound horeg perlu ditingkatkan agar tren ini tidak menimbulkan dampak kesehatan jangka panjang yang serius.



