Waldjinah di Usia 80 Tahun: Semangat Bernyanyi Keroncong Tak Pernah Padam
Waldjinah di Usia 80 Tahun: Semangat Keroncong Tak Padam

Waldjinah di Usia 80 Tahun: Semangat Bernyanyi Keroncong Tak Pernah Padam

SOLO - Dengan senyum yang hangat dan mata berbinar, Waldjinah, yang dijuluki sebagai Ratu Keroncong Indonesia, membagikan kecintaannya pada genre musik yang telah menemani hidupnya selama lebih dari enam dekade. "Nyanyio keroncong, enak keroncong, nyanyine ora ngotot (Bernyanyilah keroncong, enak keroncong, menyanyinya santai)," ucapnya, menyampaikan filosofi mendalam di balik alunan keroncong yang lembut dan penuh makna.

Semangat yang Tetap Membara di Usia Senja

Di usia yang telah menginjak 80 tahun, setara dengan usia kemerdekaan Indonesia, Waldjinah mengaku bahwa hasratnya untuk bernyanyi tak pernah surut. Meski fisiknya tak lagi muda seperti dulu, semangatnya dalam menghidupkan musik keroncong tetap membara. Ia mengungkapkan, "Kalau menyanyi ya kepingin terus. Kalau cuma bersenandung aja yo ijik iso (masih bisa). Kalau menyanyi sudah turun satu nada," kata Waldjinah saat ditemui di kediamannya yang terletak di Kampung Mangkuyudan, Solo, pada Rabu, 21 Januari 2026.

Pernyataan ini mencerminkan ketulusan dan dedikasi seorang seniman yang telah mengabdikan hidupnya untuk melestarikan warisan budaya Indonesia. Waldjinah tidak hanya sekadar penyanyi, tetapi juga simbol ketahanan dan kecintaan pada seni tradisional yang terus ia rawat meski zaman telah berubah.

Perjalanan Panjang dalam Dunia Keroncong

Lebih dari enam dekade berkarya, Waldjinah telah menjadi ikon dalam musik keroncong, genre yang dikenal dengan irama santai dan syair yang penuh perasaan. Perjalanan panjangnya di dunia musik ini tidak lepas dari komitmennya untuk menjaga keaslian dan keindahan keroncong, sambil tetap terbuka pada inovasi dan kolaborasi, seperti yang terlihat dalam proyek-proyek terbarunya.

Di tengah arus modernisasi, Waldjinah tetap setia pada akar musiknya, sambil menginspirasi generasi muda untuk mengenal dan mencintai keroncong. Kediamannya di Solo menjadi saksi bisu perjalanan artistiknya, tempat di mana ia terus berlatih dan berbagi cerita tentang musik yang telah memberinya kehidupan dan kebahagiaan.

Pesan untuk Generasi Muda

Melalui kata-katanya, Waldjinah menyampaikan pesan penting tentang kesabaran dan ketenangan dalam bernyanyi keroncong. "Menyanyinya santai," itulah kunci yang ia tekankan, mengingatkan bahwa keroncong bukan sekadar hiburan, tetapi juga media untuk mengekspresikan emosi dengan lembut dan mendalam. Semangatnya ini diharapkan dapat menggerakkan lebih banyak orang, terutama anak muda, untuk melestarikan dan mengembangkan musik tradisional Indonesia.

Dengan suara yang mungkin tak lagi sejernih dulu, namun penuh makna, Waldjinah membuktikan bahwa usia bukanlah penghalang untuk terus berkarya. Ia tetap menjadi sumber inspirasi bagi banyak seniman dan pencinta musik di seluruh negeri, menunjukkan bahwa keroncong akan selalu hidup selama ada yang mau menyanyikannya dengan hati.