Gastronomi Molekuler: Memasak dengan Sains dan Seni ala Koki Andrian Ishak
Gastronomi Molekuler: Sains dan Seni Memasak

TANGERANG, Nusantara Daily – Memasak tidak hanya sebatas resep atau cita rasa. Kini, hadir pendekatan kuliner baru yang menggabungkan sains dan seni, dikenal sebagai molecular gastronomy atau gastronomi molekuler.

Pelopor Gastronomi Molekuler di Indonesia

Andrian Ishak, pemilik restoran Namaaz Dining sekaligus pelopor gastronomi molekuler di Indonesia, mengungkapkan bahwa istilah gastronomi molekuler erat kaitannya dengan saintis atau ahli ilmu pengetahuan.

“Saya kan bukan saintis dan lagi terminologi itu dipakai untuk saintis pada saat dia mau bikin workshop. Dia perlu pendanaan, perlu title. Akhirnya dapatin title molecular gastronomy,” kata Andrian saat ditemui usai acara Molecular Gastronomy Experience di IKEA Alam Sutera, Selasa (9/6/2026).

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Molecular Cooking Lebih Akrab

Bagi Andrian yang berprofesi sebagai koki profesional, istilah gastronomi molekuler terasa lebih akrab jika diganti dengan sebutan molecular cooking. Menurutnya, istilah tersebut lebih tepat digunakan oleh para koki dalam praktik sehari-hari.

Gastronomi molekuler memungkinkan para koki bereksperimen dengan tekstur, suhu, dan bentuk bahan makanan menggunakan prinsip-prinsip ilmiah. Hasilnya, hidangan tidak hanya lezat tetapi juga menyajikan pengalaman visual dan sensorik yang unik.

“Kami menggunakan teknik seperti spherifikasi, gelifikasi, dan emulsifikasi untuk menciptakan sajian yang inovatif,” tambah Andrian.

Meskipun masih tergolong baru di Indonesia, gastronomi molekuler mulai mendapat perhatian dari para pecinta kuliner. Restoran Namaaz Dining menjadi salah satu pionir yang memperkenalkan teknik ini kepada masyarakat luas.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga