Menteri Kebudayaan Soroti Nilai Sejarah dan Diplomasi Budaya dalam Film Taj Mahal
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menghadiri pemutaran perdana film Taj Mahal: An Eternal Love Story karya sutradara Akbar Khan di Cinema XXI Plaza Senayan, Jakarta, pada Jumat, 13 Februari 2026. Acara ini bertepatan dengan peluncuran global film kolosal berlatar sejarah Kekaisaran Mughal, yang menandai penayangan resmi di Indonesia.
Kisah Cinta Abadi yang Menginspirasi
Film ini mengangkat kisah cinta antara Pangeran Khurram, yang kelak dikenal sebagai Shah Jahan, dan Arjumand Banu Begum atau Mumtaz Mahal. Berlatar di masa kejayaan Kekaisaran Mughal, alur cerita menggambarkan perjalanan romansa mereka di tengah intrik politik, perebutan kekuasaan, dan konflik istana, yang akhirnya melahirkan monumen Taj Mahal sebagai simbol cinta dan pengabdian abadi. Kisah ini menegaskan bahwa cinta sejati mampu mengatasi perbedaan, kekuasaan, serta kepentingan politik, sekaligus menjadi kekuatan universal yang mempersatukan umat manusia.
Apresiasi Mendalam dari Menteri Fadli Zon
Dalam sambutannya, Fadli Zon mengapresiasi kekuatan narasi, nilai sejarah, serta pesan kemanusiaan yang dihadirkan film ini. Ia menilai karya tersebut tidak hanya menghibur, tetapi juga sarat dengan edukasi dan refleksi budaya yang mendalam. "Film Taj Mahal merupakan sebuah karya yang berangkat dari kisah nyata cinta Shah Jahan dan Mumtaz Mahal, yang kemudian melahirkan ekspresi budaya luar biasa berupa monumen Taj Mahal, salah satu warisan dunia yang dikagumi dan dikunjungi masyarakat dari berbagai penjuru dunia," ujar Fadli dalam keterangan resmi pada Sabtu, 14 Februari 2026.
Meski telah dua kali mengunjungi Taj Mahal dan mempelajari sejarahnya, Fadli menyebut film ini menghadirkan sudut pandang yang lebih luas dan mendalam tentang perjalanan panjang peradaban India di era Kekaisaran Mughal. "Dengan menonton film ini, kita diajak menyelami sejarah yang lebih panjang, mulai dari intrik politik, konflik istana, hingga kisah cinta Pangeran Khurram yang kemudian menjadi Shah Jahan. Semua disajikan secara kolosal, teknis yang sangat baik, serta ditulis dengan keseriusan tinggi," ungkapnya.
Menurutnya, film ini tidak hanya menonjolkan aspek visual dan dramatik, tetapi juga menyampaikan pesan moral yang kuat tentang cinta, kesetiaan, dan pengorbanan. "Ini adalah film yang sangat menarik, edukatif, penuh nilai sejarah, serta sarat pesan cinta dan kasih sayang. Lagu-lagu khas India turut memperkuat emosi cerita, sehingga menjadi pengalaman menonton yang utuh," paparnya.
Harapan untuk Pertukaran Budaya yang Lebih Intensif
Fadli berharap kehadiran film ini dapat memperkaya khazanah tontonan berkualitas di Indonesia sekaligus mendorong pertukaran budaya yang lebih intensif di masa depan. "Semoga film ini mendapat sambutan luas dari masyarakat Indonesia, menjadi alternatif tontonan yang berkualitas, serta memperkuat hubungan budaya Indonesia dan India ke depan," lanjutnya.
Dukungan dari Produser dan Sutradara Akbar Khan
Sementara itu, produser dan sutradara film, Akbar Khan, berterima kasih atas kehadiran Fadli Zon dalam pemutaran perdana tersebut. Ia menilai kehadiran pemerintah Indonesia merupakan bentuk dukungan nyata terhadap seni, budaya, dan dialog peradaban. "Di tengah dunia yang penuh tantangan dan konflik, pesan cinta yang dihadirkan film Taj Mahal menjadi sangat relevan. Kehadiran Yang Mulia Menteri Kebudayaan memberikan kehormatan besar bagi kami, sekaligus menunjukkan komitmen Indonesia dalam mendukung seni dan budaya sebagai sarana pemersatu bangsa," ungkap Akbar.
Ia menambahkan, hubungan budaya antara India dan Indonesia merupakan fondasi penting dalam membangun persahabatan antarnegara. "Seni dan budaya adalah bahasa universal yang mampu menjangkau hati manusia, melampaui sekat politik dan perjanjian formal. Saya berharap film ini dapat diterima oleh masyarakat Indonesia dan menjadi jembatan persahabatan yang semakin mempererat hubungan kedua bangsa," jelasnya.
Dukungan dari Pejabat Kementerian Kebudayaan
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Kebudayaan didampingi oleh sejumlah pejabat tinggi, termasuk:
- Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan, Endah T. D. Retnoastuti
- Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Ahmad Mahendra
- Direktur Promosi Kebudayaan, Undri
Kehadiran mereka menegaskan komitmen pemerintah dalam mendukung inisiatif budaya yang dapat memperkuat diplomasi internasional dan memperkaya wawasan masyarakat.