Puan Maharani Dorong UMKM Beralih ke Kemasan Organik Saat Harga Plastik Melonjak
Ketua DPR RI Puan Maharani menilai lonjakan harga plastik yang mencapai 30 hingga 80 persen bisa menjadi momentum strategis untuk beralih ke kemasan berbahan alami. Ia secara khusus mendorong pelaku usaha, terutama di sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), untuk kembali memanfaatkan kearifan lokal seperti penggunaan daun pisang atau daun jati sebagai pembungkus alternatif.
Krisis Harga Plastik dan Dampaknya pada UMKM
Puan menjelaskan bahwa lonjakan harga plastik dipicu oleh konflik geopolitik global yang mengganggu rantai pasok internasional. Ketergantungan industri dalam negeri terhadap bahan baku impor yang mencapai 60 persen memperburuk situasi, terutama bagi pelaku UMKM di sektor makanan dan minuman.
"Harga plastik yang melonjak hingga berkali-kali lipat dan pasokan mulai sulit diperoleh menyebabkan pelaku usaha kecil yang selama ini bekerja dengan keuntungan terbatas semakin kesulitan dari sisi ekonomi," papar Puan dalam keterangannya, Rabu (15/4/2026).
Solusi Kearifan Lokal: Daun sebagai Kemasan Alami
Puan mendorong penggunaan kemasan alami yang sudah lazim ditemui di berbagai daerah. Beberapa contoh praktik yang disebutkan meliputi:
- Penjual nasi liwet, gudeg, dan mi lethek di Jawa Tengah yang telah lama menggunakan daun sebagai pembungkus.
- Penggunaan daun pisang untuk makanan seperti lontong dan lemper, yang dinilai lebih efektif karena dapat membuat makanan lebih awet sekaligus mengharumkan aromanya.
"Di pendahulu kita dulu, penggunaan kemasan dari bahan alami seperti daun menjadi alternatif utama. Pedagang makanan atau pangan bisa kembali memanfaatkan kemasan ramah lingkungan seperti itu," tuturnya.
Manfaat Ganda: Tekan Biaya dan Tingkatkan Nilai Jual
Menurut Puan, kemasan organik tidak hanya membantu pelaku usaha menekan biaya produksi, tetapi juga dapat mendongkrak nilai jual produk. "Dengan memakai kemasan dari bahan organik, pelaku usaha tak hanya bisa menghindari tekanan ekonomi karena tingginya bahan baku dari impor, tapi juga bisa menambah nilai jual," ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa keunikan kemasan alami dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi sebagian kalangan masyarakat, sehingga meningkatkan minat beli konsumen.
Dukungan terhadap Agenda Lingkungan Global
Puan juga mengaitkan isu ini dengan agenda lingkungan global. Ia mengutip laporan UNEP yang mencatat bahwa sampah plastik setara 2.000 truk dibuang ke laut, sungai, dan danau setiap harinya, dengan 19 hingga 23 juta ton limbah plastik mencemari ekosistem perairan setiap tahun.
"Jadi semangat kita di sini adalah, selagi harga plastik sedang tinggi harganya, kita bisa mencari alternatif penggunaan kemasan lain, yang sekaligus mengurangi sampah plastik," ujar Puan.
Langkah Transisi dan Peran Pemerintah
Puan mengakui bahwa peralihan kebiasaan tidak bisa terjadi dalam semalam. Ia menyarankan agar perubahan dimulai dari langkah kecil, seperti rumah makan yang tidak memakai wadah plastik sekali pakai saat menyajikan makanan dan minuman untuk pembelian makan di tempat.
Namun, ia menegaskan bahwa peran pemerintah sangat dibutuhkan dalam transisi ini, mulai dari regulasi, sistem pendukung, hingga sosialisasi yang masif. "Pada dasarnya masyarakat akan menyesuaikan kebiasaan yang ada. Apabila sistemnya mendukung, saya yakin bukan tidak mungkin bahan organik bisa menggantikan kemasan plastik sekali pakai," ucapnya.
Untuk itu, Puan mendorong Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Ekonomi Kreatif untuk berkolaborasi mencari solusi kemasan alternatif bagi pelaku usaha.
"Pemerintah perlu memberikan support dan memfasilitasi kebutuhan masyarakat terhadap alternatif kemasan, khususnya bagi para pelaku usaha dan konsumen. Kami di DPR akan ikut melakukan pengawasan sesuai tugas dan kewenangan dewan," tutup Puan.



