Rupiah Anjlok, Mahasiswa RI di Australia Rasakan Dampak Berat
Rupiah Anjlok, Mahasiswa RI di Australia Rasakan Dampak

Mahasiswa asal Indonesia di Australia mengaku terkena dampak signifikan akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Australia. Kondisi ini diperparah dengan mahalnya harga kebutuhan pokok dan biaya sewa tempat tinggal di Australia.

Kisah Mahasiswa yang Terdampak

Akmal Ismail Zain, mahasiswa S1 Ilmu Farmasi di Monash University, masih bergantung pada kiriman uang dari orang tuanya di Indonesia. Ia merasakan kenaikan biaya hidup yang cukup tajam.

"Karena saya masih pakai uang dari orang tua, yang saya perhatikan untuk living cost per bulannya sudah mulai naik sejuta sampai dua juta dari awal Februari sampai sekarang," ujarnya.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Nilai tukar rupiah terus melemah, mencapai Rp17.862 per dolar AS dan Rp12.791 per dolar Australia pada Selasa (2/6). Akmal mengatakan pengeluaran terbesarnya adalah uang kuliah, diikuti sewa kamar.

Untuk mengatasi hal ini, Akmal berencana mencari kerja paruh waktu. "Kita enggak tahu nih, rupiah bakal menguat atau enggak. Lebih baik saya bergerak dari sekarang dibanding menunggu ketidakpastian," katanya.

Tekanan Finansial Diakui PPI Australia

Muhammad Hadiyan Ridho, Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Australia, mengakui tekanan finansial yang dialami mahasiswa Indonesia. "Kalau menurut saya pribadi, anjloknya rupiah cukup berdampak karena nilai tukarnya cukup drastis," ujarnya.

Ridho mencontohkan, saat ia pertama kali datang ke Australia pada Februari tahun lalu, nilai tukar rupiah terhadap dolar Australia masih sekitar Rp10.500. Sekarang sudah mencapai Rp12.700, hampir Rp13.000, naik hampir 20 persen.

Mahasiswa yang paling terdampak adalah mereka yang memiliki kendaraan karena harga bahan bakar di Australia juga masih tinggi.

Beasiswa Tak Cukup, Tabungan Terkuras

Stephanie Permata Putri, atau Tata, mahasiswi S2 Administrasi Bisnis di Adelaide University, juga merasakan dampaknya. Ia menerima beasiswa LPDP dan Australia Awards Scholarship.

"Khususnya dari harga makanan sama sewa. Lumayan terasa kalau misalkan setidaknya sehari sekali beli makanan di luar, terasa uang sakunya langsung habis," kata Tata yang tiba di Adelaide pada Juli 2025.

Ia baru merasakan tekanan biaya belakangan ini. "Kira-kira akhir tahun lalu atau awal tahun ini, pengeluaran kayak biasa, tapi tiba-tiba tabungan enggak ada," ujarnya.

Biro Statistik Australia (ABS) mencatat kenaikan biaya hidup tahunan antara 2,3 hingga 4,2 persen hingga Desember. Sekitar 36 persen warga Australia mengakses layanan penyedia pangan untuk pertama kalinya.

Tata menerima tambahan uang saku lima persen dari Pemerintah Australia sejak 1 Januari 2026, menjadi hampir A$1.400 setiap dua pekan. "Menurut saya, tambahan uang saku ini membantu biar ada sedikit kelegaan untuk expense-nya," katanya, meski jumlahnya tidak signifikan.

Berbeda dengan Penerima Beasiswa Lain

Ahimsa Wardah Swadeshi, penerima beasiswa LPDP di University of Melbourne, tidak menerima tambahan uang saku. Ia belum merasakan kenaikan biaya kebutuhan pokok, namun merasakan tekanan harga sewa setelah pindah ke studio apartemen.

"Terutama karena biaya sewa dan listrik naik, karena enggak ada teman sharing juga," ujar mahasiswi S2 Jurnalistik itu. Ia masih bisa bertahan dengan uang LPDP, namun khawatir jika kondisi geopolitik memburuk.

Cara Mahasiswa Berhemat

Mahasiswa internasional di Australia melakukan berbagai cara untuk berhemat. Tata mengurangi membeli makanan jadi di luar. "Jadi kalau enggak sempat masak, setidaknya cuma beli makan sehari sekali, dan itu harus cukup untuk dua kali makan," ujarnya. Ia juga mengurangi belanja di luar kebutuhan pokok dan menunggu diskon.

Ahimsa memesan menu yang bisa dikonsumsi lebih dari sekali saat makan di luar, seperti nasi lemak dan ayam kari yang lauknya bisa disimpan. "Semakin banyak masak, semakin banyak menahan diri untuk tidak jajan di luar," ujarnya.

Pengeluaran untuk bersosialisasi juga dikurangi. "Pengeluaran hanging out with my friends itu agak saya kurangi biar saya setidaknya ada simpanan uang," ujar Akmal. Mahasiswa juga lebih kreatif, seperti memanfaatkan program 'Buy One Get Two' atau mengejar diskon di supermarket.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga